<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Coffielicious</title>
    <link>https://coffielicious.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 14:20:35 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Love Rival</title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/love-rival?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;Heehoon AU - Part of HHB Festival &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;school life, fluff, non baku conversation.&#xA;&#xA;!--more-- &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Kebiasaannya adalah membaca sembari menggigit sesuatu, dan berjalan di koridor. Tidak perlu menghindar karena ia tahu jelas orang lain yang akan melakukannya. &#xA;&#xA;&#34;Hoey!! Udah liat papan pengumuman?&#34; Seseorang merangkul bahunya. &#xA;&#xA;&#34;Udah,&#34; jawabnya acuh. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa sih, Hee? Males karena lo ranking dua? Ngga juara paralel? Masih ada kenaikan kelas 3 kaan? Kita seneng-seneng dulu aja!&#34; &#xA;&#xA;Yang dipanggil Hee, melirik, menghentikan langkah dan menghela napas. &#xA;&#xA;&#34;Dimarahin bonyok?&#34; &#xA;&#xA;Heeseung menggeleng, &#34;mereka santai sih.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bet you just blame yourself?&#34; &#xA;&#xA;Heeseung meneleng pelan, &#34;dahlah yuk, perpus apa kantin?&#34; Ia bertanya padahal jelas tahu jawabannya. &#xA;&#xA;&#34;Kantin laahh!! Bu Mira bikin rica-rica. Ayok!&#34; Beomgyu menyeretnya tanpa susah payah. &#xA;&#xA;&#34;Gyu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apeee?&#34; Ia duduk tepat di depan Heeseung. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa dia ngga ikut kelas aksel aja deh? SMP nya kan aksel.&#34; &#xA;&#xA;Beomgyu melahap bakwannya penuh, &#34;muffkin maffu-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Abisin dulu makanan lo, tolol!&#34; Heeseung menimpukkan buku catatannya. &#xA;&#xA;&#34;Setan lo! Sakit, Njing!&#34; &#xA;&#xA;Mereka meributkan hal yang tak perlu selama beberapa waktu. &#xA;&#xA;&#34;Lagian Hee, Miss Tezza kan minta dia ngga aksel.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh, anak kesayangan Miss Tezza sih ya. Kaya temennya itu kan? Yang anak Brisbane?&#34; &#xA;&#xA;Beomgyu mengedik, &#34;lah lo juga anak kesayangan banyak guru.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Banyak guru tapi ranking 2.&#34; Membanting pelan buku catatannya dan beranjak berdiri. &#xA;&#xA;&#34;Mau ke mana woey! Lumpia basahnya belom lo makan!&#34; HEESEUNG!&#34; suara Beomgyu memenuhi kantin. &#xA;&#xA;Orang-orang sudah terlalu hapal, membiarkannya heboh sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Perpus,&#34; dan Heeseung hilang dari pandangan. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Kak Wenda, jadinya saya pinjem ini ya.&#34; Heeseung menumpukkan tiga buku tebal di meja. &#xA;&#xA;&#34;Tiga aja, Hee?&#34; itu kak Wenda, pustakawan yang tahun lalu baru saja masuk kerja. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak. Yang lain nanti dulu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lagian buku yang saya cari buat bacaan ringan kayanya dipinjem orang, Kak. Besok kalo dibalikin saya minta tolong disimpen dulu, boleh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Buku apa, Hee?&#34; &#xA;&#xA;&#34;The Strange Librarynya Haruki, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Wenda mengangguk, &#34;oh, itu lagi dipinjem barusan sama Sunghoon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sunghoon? Park?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya! Wah dia yang juara paralel tahun ajaran lalu kan ya? Berarti tahun ini full beasiswa.&#34; Wenda mengabaikan raut aneh dari Heeseung. &#xA;&#xA;&#34;Haha iya, Kak. Yaudah itu kalo udah dibalikin boleh minta tolong disimpen dulu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh, iya oke.&#34; Wenda menyerahkan kartu perpus pada Heeseung dan berkutat pada pekerjaannya kembali setelah memastikan mengucapkan selamat membaca. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Mau pindahan kali lo bawa buku sebanyak itu,&#34; cibir Beomgyu. &#xA;&#xA;&#34;Apaan dah.&#34; Heeseung mendudukkan diri dan mulai sibuk dengan buku bacaannya, mengabaikan segala keributan di kelas karena belum ada guru yang datang. &#xA;&#xA;&#34;Guys, perhatian!&#34; disusul dengan suara duk agak keras di atas meja guru. &#xA;&#xA;Keributan menyusut, terganti dengan keheningan yang penuh tanda tanya. &#xA;&#xA;Itu Ryujin, ketua kelas mereka. &#xA;&#xA;&#34;Guru rapat-&#34; &#xA;&#xA;&#34;YEAAAYYY,&#34; seluruhnya, hampir serentak. &#xA;&#xA;&#34;Diem dulu, plis.&#34; Ryujin berkali-kali menutuk tongkat ke meja. &#xA;&#xA;&#34;Okee, gimana Ryuu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngerjain soal, ini baru dikasih,&#34; membawa tumpukan kertas ke meja paling dekat dengannya. &#xA;&#xA;&#34;Yaaaahhh.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nanti langsung dikumpul,&#34; mengabaikan sorakan kecewa, Ryujin dibantu Sunghoon membagikan kertas bertumpuk yang menjadi amanahnya. &#xA;&#xA;&#34;Thanks, Hoon.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon hanya mengedip. &#xA;&#xA;&#34;Hoon.&#34; &#xA;&#xA;Bukan Sunghoon, namun Heeseung menengok dari bangkunya. &#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34; &#xA;&#xA;Suaranya memasuki gendang telinga Heeseung dengan sopan sekali. &#xA;&#xA;&#34;Mau tanya penggunaan huruf kapital, boleh?&#34; itu Dongjin, bertanya pada Sunghoon. &#xA;&#xA;&#34;Eh boleh, gimana?&#34; Sunghoon memajukan badannya sedikit. &#xA;&#xA;Tugas mereka adalah meneruskan cerita dari paragraf yang sudah dibuat oleh guru bahasa Indonesia, dengan kalimat, tanda baca, ejaan, juga pemakaian huruf kapital yang tepat. &#xA;&#xA;&#34;Kalo kata sapaan gitu, awalannya harus pake kapital ngga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sapaan yang langsung iya, Jin. Misal nih, dalam kalimat ini lo ngomong langsung ke ibu. Hm... tadi ada titipan dari kak Sean, Bu,&#34; Sunghoon menuliskan kalimat itu di atas buku catatannya, &#34;nah, &#39;bu&#39; di sini, karena kalimat langsung jadi pake awalan huruf kapital. Beda sama &#39;kak Sean&#39;. Karena bukan sapaan langsung, &#39;kak&#39; nya pakai awalan huruf kecil, kemudian &#39;s&#39; pada &#39;Sean&#39; pakai awalan huruf besar, karena nama orang.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung melihat Dongjin mengangguk mengerti. &#xA;&#xA;&#34;Oke, gue paham. Makasih yaa, eh nanti kalo perlu tumpangan pulang, boncengan gue kosong.&#34; &#xA;&#xA;Sialan, modus ternyata. &#xA;&#xA;&#34;Haha, thanks gue bareng kak Soobin.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh,&#34; garuknya canggung. &#xA;&#xA;Sunghoon kemudian menoleh padanya, memberikan pandangan bertanya, &#34;apa liat-liat?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dih, ge-er.&#34; Heeseung mencibir. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Mereka, tidak bermusuhan, kuberi tahu. Serius. &#xA;&#xA;Hanya beberapa rival kecil untuk mereka memperebutkan juara pertama. &#xA;&#xA;Sunghoon yang walaupun anaknya lumayan slengean, tapi dia mampu memahami pelajaran dengan baik. Olimpiade yang ia ikuti pun, akan selalu membawa pulang piala. &#xA;&#xA;Dan Heeseung sendiri, murid kesayangan guru karena hampir mendapat A di setiap pelajaran. Dan tak lupa, kapten paskibra yang mengharumkan nama sekolah berkali-kali. &#xA;&#xA;Jika di kelas sepuluh mereka tidak satu kelas, maka berbeda untuk kelas sebelas mereka ini. &#xA;&#xA;Bertemu di kelas yang sama, dengan bangku yang tak jauh jaraknya. &#xA;&#xA;Beberapa anak yang ada di dekat mereka memilih menyingkir daripada mendengar perdebatan mereka yang tidak ada habisnya. &#xA;&#xA;Seperti sekarang, saatnya pelajaran olahraga. &#xA;&#xA;Saling berdiskusi memilih lapangan indoor atau outdoor. &#xA;&#xA;&#34;Kalo mau main sepak bola di outdoor kali.&#34; Sunghoon menenteng bola sepaknya. &#xA;&#xA;&#34;Anjir, hari ini jadwalnya badmintoon, Sunghoon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah minggu lalu anjir. Oh! Lupa lo kan ngga masuk demi nganter bude lo ke bandara.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung berjengit, &#34;karena beliau mau gue ikut anter!&#34; Bergerak maju. &#xA;&#xA;Sunghoon berdiri tegap, &#34;yaudah sih, toh sekarang jadwalnya bola sepak, tuh liat kertas di samping kepala lo baik-baik.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung tidak menjawab, hampir membanting raket namun urung. &#xA;&#xA;&#34;Gue juga bawa raket, Hee. Yuk!&#34; Beomgyu menyeretnya, meninggalkan kelas yang kini benar-benar kosong. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Jadi mau yang mana?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon masih menimbang dua buku di genggamannya. &#xA;&#xA;&#34;Duit lo bulan ini cukup buat beli satu buku aja, Hoon.&#34; Jake kembali berkata. &#xA;&#xA;&#34;Iya sih... menurut lo yang mana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya yang lo butuhin dulu aja.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menurut, mengembalikan novel &#39;Dallagoot: Toko Penjual Mimpi&#39; ke tempatnya kembali. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Sunghoon menjejalkan buku ilmiah yang akhirnya ia beli ke dalam tasnya. Menghela napas dan menyusul Jake yang sudah beberapa langkah di hadapannya. &#xA;&#xA;&#34;Jake! Tungguin.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Eh lo pulang duluan aja deh, gue mau ketemu orang.&#34; &#xA;&#xA;Jake memicing curiga. &#xA;&#xA;Mereka sudah di basement parkir gramedia. Di samping motor Jake yang siap dikendarai. &#xA;&#xA;&#34;Mau ketemu siapa? Ngga ditemenin beneran? Ngga jahat kan?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon meringis, &#34;lo baik banget deh, tapi ini tetangga gue kok, no need to worry.&#34; &#xA;&#xA;Jake mengangguk, &#34;yaudah kalo gitu gue jadi kencan aja sama Jay.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Astagaa, lo kenapa ngga bilang kalo mau kencan coba?&#34; &#xA;&#xA;Jake terkekeh kecil, &#34;kan lo duluan yang minta temenin. Sebenernya nanti, tapi karena lo udah kelar, gue ketemu Jay sekarang aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maaf yaaa, jadi lo pulang sendirian.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Santaaii,&#34; ucapnya sembari membenahi helmnya.&#xA;&#xA;&#34;Chat me when you got home.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sure,&#34; dan Jake hilang dari pandangan. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Sunghoon melangkah ke atas lagi. Memasuki toko buku kembali, kali ini seorang diri. &#xA;&#xA;Beralih menuju bagian alat-alat tulis. &#xA;&#xA;&#34;Kok di sini?&#34; bertanya ketika menemukannya. &#xA;&#xA;Lelaki yang ditanyai berdiri dari kegiatannya memilih beberapa kuas, menghadap Sunghoon dan tersenyum, &#34;nyusul,&#34; mengulurkan tangan, menyimpan rambut yang memanjang ke belakang telinga Sunghoon. &#xA;&#xA;&#34;Sekalian mau beli apa?&#34; kejarnya. &#xA;&#xA;Lelaki di depannya belum melunturkan senyumnya, &#34;tas. Tas gue ada yang narik hari ini, rusak kan, jadi harus ganti.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maaf...&#34; Sunghoon mencicit. &#xA;&#xA;Mereka bertengkar lagi siang tadi. Sepele, tentu saja. Bagian matematika, menyelesaikan dengan cara yang berbeda namun hasilnya tepat sama. Sunghoon dicibir Heeseung karena menggunakan cara yang berbelit. Sunghoon membalasnya dengan, &#39;terlalu pintas, ntar lo kesasar tahu rasa.&#39; &#xA;&#xA;Dan masih berlanjut di pulang sekolah, Heeseung mengejar Sunghoon dengan membawakan kecoa. Sunghoon berang, menerjang Heeseung dan menarik tas nya hingga rusak. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa milih backstreet?&#34; mengabaikan perkataan Sunghoon sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Males ditanyain macem-macem,&#34; melangkah menuju bagian backpack, memilih yang cocok untuk lelakinya. &#xA;&#xA;Lelakinya, Lee Heeseung. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Yang banyak anak tahu, bahwa mereka adalah rival dalam akademik. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Yang semua orang tidak tahu, mereka juga rival dalam menunjukkan cinta kepada masing-masing.  &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Kalo tahun ajaran baru kita sekelas, backstreet aja. Lagian kita pacaran juga masih aja tengkar kanan kiri.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung tertawa dibuatnya, mengecup pelipis Sunghoon yang duduk manis di sofa rumahnya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;kkeut&#xA;&#xA;@coffielicious]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p><em>Heehoon AU – Part of HHB Festival</em></p>

<p>.</p>
<ul><li>school life, fluff, non baku conversation.</li></ul>

 

<hr/>

<p>Kebiasaannya adalah membaca sembari menggigit sesuatu, dan berjalan di koridor. Tidak perlu menghindar karena ia tahu jelas orang lain yang akan melakukannya.</p>

<p>“Hoey!! Udah liat papan pengumuman?” Seseorang merangkul bahunya.</p>

<p>“Udah,” jawabnya acuh.</p>

<p>“Kenapa sih, Hee? Males karena lo ranking dua? Ngga juara paralel? Masih ada kenaikan kelas 3 kaan? Kita seneng-seneng dulu aja!”</p>

<p>Yang dipanggil Hee, melirik, menghentikan langkah dan menghela napas.</p>

<p>“Dimarahin bonyok?”</p>

<p>Heeseung menggeleng, “mereka santai sih.”</p>

<p>“<em>Bet you just blame yourself?</em>“</p>

<p>Heeseung meneleng pelan, “dahlah yuk, perpus apa kantin?” Ia bertanya padahal jelas tahu jawabannya.</p>

<p>“Kantin laahh!! Bu Mira bikin rica-rica. Ayok!” Beomgyu menyeretnya tanpa susah payah.</p>

<p>“Gyu.”</p>

<p>“Apeee?” Ia duduk tepat di depan Heeseung.</p>

<p>“Kenapa dia ngga ikut kelas aksel aja deh? SMP nya kan aksel.”</p>

<p>Beomgyu melahap bakwannya penuh, “muffkin maffu-”</p>

<p>“Abisin dulu makanan lo, tolol!” Heeseung menimpukkan buku catatannya.</p>

<p>“Setan lo! Sakit, Njing!”</p>

<p>Mereka meributkan hal yang tak perlu selama beberapa waktu.</p>

<p>“Lagian Hee, Miss Tezza kan minta dia ngga aksel.”</p>

<p>“Oh, anak kesayangan Miss Tezza sih ya. Kaya temennya itu kan? Yang anak Brisbane?”</p>

<p>Beomgyu mengedik, “lah lo juga anak kesayangan banyak guru.”</p>

<p>“Banyak guru tapi ranking 2.” Membanting pelan buku catatannya dan beranjak berdiri.</p>

<p>“Mau ke mana woey! Lumpia basahnya belom lo makan!” HEESEUNG!” suara Beomgyu memenuhi kantin.</p>

<p>Orang-orang sudah terlalu hapal, membiarkannya heboh sendiri.</p>

<p>“Perpus,” dan Heeseung hilang dari pandangan.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Kak Wenda, jadinya saya pinjem ini ya.” Heeseung menumpukkan tiga buku tebal di meja.</p>

<p>“Tiga aja, Hee?” itu kak Wenda, pustakawan yang tahun lalu baru saja masuk kerja.</p>

<p>“Iya, Kak. Yang lain nanti dulu.”</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>“Lagian buku yang saya cari buat bacaan ringan kayanya dipinjem orang, Kak. Besok kalo dibalikin saya minta tolong disimpen dulu, boleh?”</p>

<p>“Buku apa, Hee?”</p>

<p>“<em>The Strange Library</em>nya Haruki, Kak.”</p>

<p>Wenda mengangguk, “oh, itu lagi dipinjem barusan sama Sunghoon.”</p>

<p>“Sunghoon? Park?”</p>

<p>“Iya! Wah dia yang juara paralel tahun ajaran lalu kan ya? Berarti tahun ini full beasiswa.” Wenda mengabaikan raut aneh dari Heeseung.</p>

<p>“Haha iya, Kak. Yaudah itu kalo udah dibalikin boleh minta tolong disimpen dulu?”</p>

<p>“Oh, iya oke.” Wenda menyerahkan kartu perpus pada Heeseung dan berkutat pada pekerjaannya kembali setelah memastikan mengucapkan selamat membaca.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Mau pindahan kali lo bawa buku sebanyak itu,” cibir Beomgyu.</p>

<p>“Apaan dah.” Heeseung mendudukkan diri dan mulai sibuk dengan buku bacaannya, mengabaikan segala keributan di kelas karena belum ada guru yang datang.</p>

<p>“Guys, perhatian!” disusul dengan suara duk agak keras di atas meja guru.</p>

<p>Keributan menyusut, terganti dengan keheningan yang penuh tanda tanya.</p>

<p>Itu Ryujin, ketua kelas mereka.</p>

<p>“Guru rapat-”</p>

<p>“<em>YEAAAYYY</em>,” seluruhnya, hampir serentak.</p>

<p>“Diem dulu, plis.” Ryujin berkali-kali menutuk tongkat ke meja.</p>

<p>“Okee, gimana Ryuu?”</p>

<p>“Ngerjain soal, ini baru dikasih,” membawa tumpukan kertas ke meja paling dekat dengannya.</p>

<p>“Yaaaahhh.”</p>

<p>“Nanti langsung dikumpul,” mengabaikan sorakan kecewa, Ryujin dibantu Sunghoon membagikan kertas bertumpuk yang menjadi amanahnya.</p>

<p>“<em>Thanks,</em> Hoon.”</p>

<p>Sunghoon hanya mengedip.</p>

<p>“Hoon.”</p>

<p>Bukan Sunghoon, namun Heeseung menengok dari bangkunya.</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>Suaranya memasuki gendang telinga Heeseung dengan sopan sekali.</p>

<p>“Mau tanya penggunaan huruf kapital, boleh?” itu Dongjin, bertanya pada Sunghoon.</p>

<p>“Eh boleh, gimana?” Sunghoon memajukan badannya sedikit.</p>

<p>Tugas mereka adalah meneruskan cerita dari paragraf yang sudah dibuat oleh guru bahasa Indonesia, dengan kalimat, tanda baca, ejaan, juga pemakaian huruf kapital yang tepat.</p>

<p>“Kalo kata sapaan gitu, awalannya harus pake kapital ngga?”</p>

<p>“Sapaan yang langsung iya, Jin. Misal nih, dalam kalimat ini lo ngomong langsung ke ibu. Hm... tadi ada titipan dari kak Sean, Bu,” Sunghoon menuliskan kalimat itu di atas buku catatannya, “nah, &#39;bu&#39; di sini, karena kalimat langsung jadi pake awalan huruf kapital. Beda sama &#39;kak Sean&#39;. Karena bukan sapaan langsung, &#39;kak&#39; nya pakai awalan huruf kecil, kemudian &#39;s&#39; pada &#39;Sean&#39; pakai awalan huruf besar, karena nama orang.”</p>

<p>Heeseung melihat Dongjin mengangguk mengerti.</p>

<p>“Oke, gue paham. Makasih yaa, eh nanti kalo perlu tumpangan pulang, boncengan gue kosong.”</p>

<p><em>Sialan</em>, modus ternyata.</p>

<p>“Haha, <em>thanks</em> gue bareng kak Soobin.”</p>

<p>“Oh,” garuknya canggung.</p>

<p>Sunghoon kemudian menoleh padanya, memberikan pandangan bertanya, “apa liat-liat?”</p>

<p>“Dih, ge-er.” Heeseung mencibir.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Mereka, tidak bermusuhan, kuberi tahu. Serius.</p>

<p>Hanya beberapa rival kecil untuk mereka memperebutkan juara pertama.</p>

<p>Sunghoon yang walaupun anaknya lumayan slengean, tapi dia mampu memahami pelajaran dengan baik. Olimpiade yang ia ikuti pun, akan selalu membawa pulang piala.</p>

<p>Dan Heeseung sendiri, murid kesayangan guru karena hampir mendapat A di setiap pelajaran. Dan tak lupa, kapten paskibra yang mengharumkan nama sekolah berkali-kali.</p>

<p>Jika di kelas sepuluh mereka tidak satu kelas, maka berbeda untuk kelas sebelas mereka ini.</p>

<p>Bertemu di kelas yang sama, dengan bangku yang tak jauh jaraknya.</p>

<p>Beberapa anak yang ada di dekat mereka memilih menyingkir daripada mendengar perdebatan mereka yang tidak ada habisnya.</p>

<p>Seperti sekarang, saatnya pelajaran olahraga.</p>

<p>Saling berdiskusi memilih lapangan <em>indoor</em> atau <em>outdoor</em>.</p>

<p>“Kalo mau main sepak bola di <em>outdoor</em> kali.” Sunghoon menenteng bola sepaknya.</p>

<p>“Anjir, hari ini jadwalnya badmintoon, Sunghoon.”</p>

<p>“Udah minggu lalu anjir. Oh! Lupa lo kan ngga masuk demi nganter bude lo ke bandara.”</p>

<p>Heeseung berjengit, “karena beliau mau gue ikut anter!” Bergerak maju.</p>

<p>Sunghoon berdiri tegap, “yaudah sih, toh sekarang jadwalnya bola sepak, tuh liat kertas di samping kepala lo baik-baik.”</p>

<p>Heeseung tidak menjawab, hampir membanting raket namun urung.</p>

<p>“Gue juga bawa raket, Hee. Yuk!” Beomgyu menyeretnya, meninggalkan kelas yang kini benar-benar kosong.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Jadi mau yang mana?”</p>

<p>Sunghoon masih menimbang dua buku di genggamannya.</p>

<p>“Duit lo bulan ini cukup buat beli satu buku aja, Hoon.” Jake kembali berkata.</p>

<p>“Iya sih... menurut lo yang mana?”</p>

<p>“Ya yang lo butuhin dulu aja.”</p>

<p>Sunghoon menurut, mengembalikan novel &#39;Dallagoot: Toko Penjual Mimpi&#39; ke tempatnya kembali.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Sunghoon menjejalkan buku ilmiah yang akhirnya ia beli ke dalam tasnya. Menghela napas dan menyusul Jake yang sudah beberapa langkah di hadapannya.</p>

<p>“Jake! Tungguin.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Eh lo pulang duluan aja deh, gue mau ketemu orang.”</p>

<p>Jake memicing curiga.</p>

<p>Mereka sudah di <em>basement</em> parkir gramedia. Di samping motor Jake yang siap dikendarai.</p>

<p>“Mau ketemu siapa? Ngga ditemenin beneran? Ngga jahat kan?”</p>

<p>Sunghoon meringis, “lo baik banget deh, tapi ini tetangga gue kok, <em>no need to worry.</em>“</p>

<p>Jake mengangguk, “yaudah kalo gitu gue jadi kencan aja sama Jay.”</p>

<p>“Astagaa, lo kenapa ngga bilang kalo mau kencan coba?”</p>

<p>Jake terkekeh kecil, “kan lo duluan yang minta temenin. Sebenernya nanti, tapi karena lo udah kelar, gue ketemu Jay sekarang aja.”</p>

<p>“Maaf yaaa, jadi lo pulang sendirian.”</p>

<p>“Santaaii,” ucapnya sembari membenahi helmnya.</p>

<p>“<em>Chat me when you got home.</em>“</p>

<p>“<em>Sure</em>,” dan Jake hilang dari pandangan.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Sunghoon melangkah ke atas lagi. Memasuki toko buku kembali, kali ini seorang diri.</p>

<p>Beralih menuju bagian alat-alat tulis.</p>

<p>“Kok di sini?” bertanya ketika menemukannya.</p>

<p>Lelaki yang ditanyai berdiri dari kegiatannya memilih beberapa kuas, menghadap Sunghoon dan tersenyum, “nyusul,” mengulurkan tangan, menyimpan rambut yang memanjang ke belakang telinga Sunghoon.</p>

<p>“Sekalian mau beli apa?” kejarnya.</p>

<p>Lelaki di depannya belum melunturkan senyumnya, “tas. Tas gue ada yang narik hari ini, rusak kan, jadi harus ganti.”</p>

<p>“Maaf...” Sunghoon mencicit.</p>

<p>Mereka bertengkar lagi siang tadi. Sepele, tentu saja. Bagian matematika, menyelesaikan dengan cara yang berbeda namun hasilnya tepat sama. Sunghoon dicibir Heeseung karena menggunakan cara yang berbelit. Sunghoon membalasnya dengan, &#39;terlalu pintas, ntar lo kesasar tahu rasa.&#39;</p>

<p>Dan masih berlanjut di pulang sekolah, Heeseung mengejar Sunghoon dengan membawakan kecoa. Sunghoon berang, menerjang Heeseung dan menarik tas nya hingga rusak.</p>

<p>“Kenapa milih <em>backstreet</em>?” mengabaikan perkataan Sunghoon sebelumnya.</p>

<p>“Males ditanyain macem-macem,” melangkah menuju bagian <em>backpack</em>, memilih yang cocok untuk lelakinya.</p>

<p>Lelakinya, Lee Heeseung.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Yang banyak anak tahu, bahwa mereka adalah rival dalam akademik.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Yang semua orang tidak tahu, mereka juga rival dalam menunjukkan cinta kepada masing-masing.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Kalo tahun ajaran baru kita sekelas, <em>backstreet</em> aja. Lagian kita pacaran juga masih aja tengkar kanan kiri.”</p>

<p>Heeseung tertawa dibuatnya, mengecup pelipis Sunghoon yang duduk manis di sofa rumahnya.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p><strong><em>kkeut</em></strong></p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/love-rival</guid>
      <pubDate>Thu, 04 Aug 2022 08:50:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Dua Puluh Satu</title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/dua-puluh-satu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;HeeHoon AU - Part of HHB Festival &#xA;&#xA;  School life, Family, Non Baku Conversation, Flaffeh Ball heehoon. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;!--more--  &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Rangkaian penilaian akhir semester 1 baru saja berakhir. &#xA;&#xA;Sunghoon, siswa kelas 11 IPS 3 yang kini sedang mengacak rambutnya frustasi. &#xA;&#xA;Besok adalah hari ulang tahunnya, tetapi ia masih harus menjalani berbagai ujian remedial yang diberikan oleh guru pengampunya. &#xA;&#xA;&#34;Sunghoon, sejarah ada di jam ke-dua esok hari. Saya dengar kamu juga remidial untuk matematika.&#34; Pak Wonwoo membenahi kacamata bundar milik beliau. &#xA;&#xA;&#34;Iya, Pak.&#34; Sunghoon mengangguk lesu. &#xA;&#xA;&#34;Kapan class meeting akan dimulai?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon memiringkan kepala heran, perasaan tadi sedang membicarakan remidial, &#34;tanggal 10, Pak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengangguk, mempersilahkan Pak Wonwoo untuk pergi terlebih dulu. &#xA;&#xA;&#34;Oh, Sunghoon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, Pak?&#34; &#xA;&#xA;Pak Wonwoo memberikan kunci motor padanya, &#34;pulang sendiri dulu, nanti Papa pulang bareng ayahmu.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengerucutkan bibir, &#34;apaan pasti mau kencan.&#34; &#xA;&#xA;Pak Wonwoo menepuk ujung kepala putranya yang akan beranjak menghabiskan masa remajanya, &#34;ada uang di kantong stnk-nya tuh.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon nyengir, &#34;makasih, Papa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belajar tapi buat remidial besok, bisa-bisanya ngulang mapel papamu.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon tak menjawab, hanya mengecup pipi papanya dan berlalu pergi. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Baru mau pulang, Hoon?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menoleh setelah menutup pintu lokernya, &#34;eh, iya Kak, tadi pembagian yang buat class meeting.&#34; &#xA;&#xA;Lelaki yang tadi menanyai Sunghoon mengangguk, &#34;hm... mau bareng?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh...?&#34; Sunghoon menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ia mainkan kunci motor di tangannya, &#34;maaf Kak, harus bawa motor papa pulang...&#34; katanya tak enak hati. &#xA;&#xA;&#34;Wah, belum ada kesempatan berarti ya.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon tersenyum canggung. &#xA;&#xA;&#34;Kebagian apa besok class meetingnya?&#34; &#xA;&#xA;Mereka beriringan berjalan menuju parkiran sekolah. &#xA;&#xA;&#34;Badminton sama makan kerupuk, kalo Kak Heeseung?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu ternyata bernama Heeseung. &#xA;&#xA;&#34;Mayan ya... Aku badminton juga, disuruh sama futsal tapi ngga mau.&#34; &#xA;&#xA;Sejak pertama saling mengenal, mereka menggunakan aku-kamu sebagai kata ganti, tetapi berbeda saat berada di sekitar gengnya, entahlah. &#xA;&#xA;&#34;Wah, ada chance buat lawan satu sama lain kali ya, Kak.&#34;&#xA;&#xA;Heeseung menoleh, &#34;taruhan yuk!&#34; Usulnya tiba-tiba. &#xA;&#xA;Sunghoon mengerutkan kening, &#34;apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Yang badminton.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke apa, Kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo aku menang, kamu antar jemput aku sebulan di semester 2 dan sebaliknya.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menelengkan kepala, rumah Heeseung, terletak lebih jauh dari sekolah daripada miliknya, ia harus ke barat terlebih dahulu, kemudian kembali ke timur. &#34;Hm... Enak di Kakak donk, ngga perlu puter balik.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo gitu, apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh tapi, kalo Kakak menang, aku antar jemput sebulan di semester 2, kalo aku menang...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; Heeseung bertanya karena Sunghoon berhenti. &#xA;&#xA;&#34;Belum kepikiran, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Mereka melanjutkan langkah. &#xA;&#xA;&#34;Yaudah, kalo udah kepikiran, bilang.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengangguk. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Hanya tinggal beberapa kendaraan di halaman parkir yang kini mulai kosong. Sunghoon naik ke bagian parkir guru untuk mengambil motor papanya. Sebelumnya, ia mengabari bahwa ia akan mulai berjalan pulang. &#xA;&#xA;&#34;Sunghoon.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menghentikan laju motornya di samping Heeseung yang ternyata masih berhenti di ujung jalan. &#xA;&#xA;&#34;Apa Kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku di belakang kamu, ayo jalan.&#34; &#xA;&#xA;Dan Sunghoon membiarkan lelaki yang ia taksir sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini mengawalnya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Tadi dianter siapa, Sayang?&#34; Itu ayahnya, membawa satu gelas coklat hangat untuk menemani Sunghoon membaca bukunya. &#xA;&#xA;Sunghoon mengulet sedikit, &#34;ih, Ayah tau dari manaaa?&#34; mengambil gelas dari tangan ayahnya. &#xA;&#xA;&#34;Ayah kan liat.&#34; mendudukkan diri di kasur milik putranya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa ngga jadi kencan sihhh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Besok kamu remidial soalnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Astaga, besok aku ultah padahal, ini kadonya ujian ulang mapel papa yang ada,&#34; bersungut. &#xA;&#xA;&#34;Haha, ngga lupa kalo besok ultah Kakak. Masih pengen apa?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menerawang, &#34;beliin motor buat sendiri aja, boleh ngga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nanti bilang papamu, okay?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengangguk, &#34;Yah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ayah keberatan ngga kalo Sunghoon sama kak Heeseung?&#34; Sunghoon bertanya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Heeseung yang sering kamu ceritain itu ya?&#34; ayahnya menepuk sisi kosong di kasurnya, meminta Sunghoon untuk mendekat. &#xA;&#xA;&#34;Iya... yang nolongin Sunghoon waktu kena bola basket itu.&#34; Sunghoon menempatkan diri di samping ayahnya, meminta bantalan lengan. &#xA;&#xA;&#34;Ayah ngga keberatan.&#34; ujarnya sembari mengusap pucuk kepala Sunghoon. &#xA;&#xA;&#34;Tapi, Yah... Sunghoon kaya serakah banget ngga sih? Udah dapet cinta yang cukup dari papa, ayah, adek... ini Sunghoon masih pengen sama kak Heeseung juga.&#34; merapatkan diri, membiarkan netranya hampir tertutup. &#xA;&#xA;&#34;Cintanya beda, Sayang... nanti kamu bakal tahu, sekarang, yang penting kalau Sunghoon yakin dia rasa buat kamu, ya trabas aja.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon tersenyum, &#34;Ayah bobo sini sama Sunghoon, biarin papa sendirian.&#34; &#xA;&#xA;Ayahnya terkekeh kecil, melanjutkan membelai rambut Sunghoon hingga memastikannya memasuki alam mimpi. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Remidialnya berjalan lancar, meski beberapa kali papanya melirik Sunghoon. &#xA;&#xA;Yang membuat terkesan hari ini... sebenarnya ada dua, yang pertama, ayah dan papanya memberinya kejutan pagi tadi. Memberinya selamat ulang tahun dan benar-benar diberi hadiah motor. Kemudian, teman-temannya yang juga menghujaninya dengan hadiah, tidak lupa sedikit kejahilan mereka. &#xA;&#xA;Sunghoon menenteng satu kardus berat berisi hadiah miliknya dengan susah payah. Ia hampir saja menabrak seseorang di tikungan menuju tangga, sebelum satu suara menyelamatkannya. &#xA;&#xA;&#34;Hoon.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon berhenti. &#xA;&#xA;&#34;Sini aku bawain, repot banget kayanya.&#34; &#xA;&#xA;Dan siapa Sunghoon mampu menolak, &#34;makasih, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pulang sendiri?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon membawa bagiannya yang sudah dibagi dua, &#34;sama papa.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung mengangguk mengerti, &#34;Hoon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34; ia menapak tangga dengan hati-hati. &#xA;&#xA;&#34;Hadiahnya, nunggu setelah class meeting selesai, ngga papa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah? Hadiah apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ultah kamu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Haha, ngga usah dipikirin kali, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngga dipikirin juga kamu udah menetap kok.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngga. Tuh Pak Wonwoo.&#34; Heeseung menunjuk dengan dagunya. &#xA;&#xA;&#34;Iya... makasih, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sama-sama.&#34; katanya sembari menyalami guru sejarahnya, juga berpamitan undur diri. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Oh, itu yang bikin kamu sabotase ayah semalem.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apaan sabotase?&#34; Sunghoon melirik. &#xA;&#xA;&#34;Udah sana naik, ayahmu nitip ke bakery.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon menuruti papanya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Class meeting hari ini berlangsung meriah, dibuka dengan apel pagi dan sambutan kepala sekolah, dilanjutkan dengan berbagai lomba untuk diikuti dan disaksikan. &#xA;&#xA;Lomba pertama, memasak antar kelas, lomba ini mengharuskan setiap siswa ikut serta. Karena lomba ini cukup memakan waktu, jadi lomba berikutnya akan diteruskan esok hari. &#xA;&#xA;Lomba ke-dua di hari berikutnya, ada lomba kelompok kecepatan, ketangkasan, dan kecerdasan. Ini seru karena akan ada banyak sekali hal-hal menarik, seperti memasukkan bola ping pong ke dalam galon dengan bambu, melewati gelas kertas dengan mata tertutup, dan cerdas cermat. Banyak sekali suara dan tawa, Sunghoon menikmatinya. &#xA;&#xA;Badmintonnya dilaksanakan di hari ke-tiga. Ia akan melawan 10 IPA 3, di babak pertama. &#xA;&#xA;Lawannya, seimbang, karena cukup tangkas untuk bermain. Menerima servicenya dengan baik, dan gesit. Hampir saja meleset, namun Sunghoon maju ke babak berikutnya. &#xA;&#xA;Di lain tempat di waktu yang sama, ada beberapa lomba lain yang sedang berlangsung, Sunghoon menengok sebentar sambil beristirahat. &#xA;&#xA;Lawan kedua dari kelas 12 IPS 1, lawannya agak mudah karena berkali-kali oleng, Sunghoon sempat membantunya berdiri di akhir permainan. &#xA;&#xA;Kemudian, lawan terakhirnya... Heeseung, 12 IPA 1. &#xA;&#xA;&#34;Siap, Hoon? Udah kepikiran apa yang dimau?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon tersenyum, &#34;nanti aja, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung mengangguk dan mulai pemanasan. &#xA;&#xA;Koin jatuh pada bagian Sunghoon, ia membuat service pertama begitu baik, bergerak gesit mengejar shuttlecock dan meraih skor berkejaran dengan Heeseung. &#xA;&#xA;Hampir, skornya sudah dua puluh, ayo satu lagi. &#xA;&#xA;Tetapi tidak, Sunghoon jatuh terjerembab karena tersandung kakinya sendiri. &#xA;&#xA;Beberapa siswa berhambur menolong. Lututnya berdarah, kakinya terkilir, dan sikunya pun tergores. Segera saja ia dibawa ke UKS untuk mendapat penanganan. &#xA;&#xA;Heeseung muncul setelah lukanya sudah diobati, membawakan air hangat untuknya, &#34;maaf, tadi beresin perlombaan dikit.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengangguk, &#34;aku kalah ya, Kak?&#34; &#xA;&#xA;Alis Heeseung naik sebelah, &#34;skornya udah beda 4 angka, dan waktu kamu jatuh, itu masuk kok. Jadi kamu menang, skor kamu dua puluh satu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ini Kakak ngga ngalah kan?&#34; selidiknya. &#xA;&#xA;&#34;Mana mau aku ngalah, Hoon. Kamu mainnya bagus.&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon merasakan wajahnya memanas. &#xA;&#xA;&#34;Terkilir katanya?&#34; Pak Wonwoo masuk setelah mengetuk pintu UKS. &#xA;&#xA;Heeseung menyingkir dari tempatnya berdiri, hampir saja ia keluar. &#xA;&#xA;&#34;Di sini saja, Heeseung. Boleh kan saya minta temani anak saya?&#34; &#xA;&#xA;Heeseung mengangguk kaku. &#xA;&#xA;&#34;Udah baik kakinya?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengangguk, &#34;udah, Pa.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Papa tinggal ngga papa?&#34; &#xA;&#xA;Seunghoon mengangguk lagi. &#xA;&#xA;&#34;Anak saya, dijagain ya, Heeseung. Asal jangan lupa belajar juga.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung mengangguk kaku. Berdiri diam beberapa saat meski Pak Wonwoo sudah hilang dari pandangan. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku cerita tentang Kakak ke ayah sama papa. Kalau Kakak ngga nyaman, aku bakal bilang sama mereka.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung akhirnya mengerjab, &#34;Hoon, coba apa permintaan kamu kalo kamu menang?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon mengambil jari Heeseung yang menganggur, &#34;Kakak jadi pacar Sunghoon.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; Heeseung mengedip cepat, &#34;ngga salah? Bukannya kamu pacaran sama Samuel anak kelas sebelah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gosip dari mana sih?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngga penting, tapi, enak aja kamu yang nembak aku. Emang yakin aku suka kamu?&#34; &#xA;&#xA;Sunghoon berjengit pelan, &#34;oh, Kakak udah ada pacar?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah,&#34; ucapnya tergantung. &#xA;&#xA;Sunghoon menunduk. &#xA;&#xA;&#34;Ini sekarang lagi mainin jari aku.&#34; &#xA;&#xA;Dan Sunghoon mencubit lengan Heeseung. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Anjir, lawan lo Sunghoon. Dah alamat kita ngga dapet kejuaraan di badminton, guys.&#34; &#xA;&#xA;Heeseung mengerling pada Beomgyu, teman sekelasnya. &#xA;&#xA;&#34;Gantinya, lo beneran harus nembak dia, Hee! Awas aja engga.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;kkeut&#xA;&#xA;@coffielicious &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p><em>HeeHoon AU – Part of HHB Festival</em></p>

<blockquote><p>School life, Family, Non Baku Conversation, Flaffeh Ball heehoon.</p></blockquote>

<p>.</p>

  

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Rangkaian penilaian akhir semester 1 baru saja berakhir.</p>

<p>Sunghoon, siswa kelas 11 IPS 3 yang kini sedang mengacak rambutnya frustasi.</p>

<p>Besok adalah hari ulang tahunnya, tetapi ia masih harus menjalani berbagai ujian remedial yang diberikan oleh guru pengampunya.</p>

<p>“Sunghoon, sejarah ada di jam ke-dua esok hari. Saya dengar kamu juga remidial untuk matematika.” Pak Wonwoo membenahi kacamata bundar milik beliau.</p>

<p>“Iya, Pak.” Sunghoon mengangguk lesu.</p>

<p>“Kapan <em>class meeting</em> akan dimulai?”</p>

<p>Sunghoon memiringkan kepala heran, perasaan tadi sedang membicarakan remidial, “tanggal 10, Pak.”</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Sunghoon mengangguk, mempersilahkan Pak Wonwoo untuk pergi terlebih dulu.</p>

<p>“Oh, Sunghoon.”</p>

<p>“Iya, Pak?”</p>

<p>Pak Wonwoo memberikan kunci motor padanya, “pulang sendiri dulu, nanti Papa pulang bareng ayahmu.”</p>

<p>Sunghoon mengerucutkan bibir, “apaan pasti mau kencan.”</p>

<p>Pak Wonwoo menepuk ujung kepala putranya yang akan beranjak menghabiskan masa remajanya, “ada uang di kantong stnk-nya tuh.”</p>

<p>Sunghoon nyengir, “makasih, Papa.”</p>

<p>“Belajar tapi buat remidial besok, bisa-bisanya ngulang mapel papamu.”</p>

<p>Sunghoon tak menjawab, hanya mengecup pipi papanya dan berlalu pergi.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Baru mau pulang, Hoon?”</p>

<p>Sunghoon menoleh setelah menutup pintu lokernya, “eh, iya Kak, tadi pembagian yang buat <em>class meeting</em>.”</p>

<p>Lelaki yang tadi menanyai Sunghoon mengangguk, “hm... mau bareng?”</p>

<p>“Eh...?” Sunghoon menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ia mainkan kunci motor di tangannya, “maaf Kak, harus bawa motor papa pulang...” katanya tak enak hati.</p>

<p>“Wah, belum ada kesempatan berarti ya.”</p>

<p>Sunghoon tersenyum canggung.</p>

<p>“Kebagian apa besok <em>class meeting</em>nya?”</p>

<p>Mereka beriringan berjalan menuju parkiran sekolah.</p>

<p>“Badminton sama makan kerupuk, kalo Kak Heeseung?”</p>

<p>Lelaki itu ternyata bernama Heeseung.</p>

<p>“Mayan ya... Aku badminton juga, disuruh sama futsal tapi ngga mau.”</p>

<p>Sejak pertama saling mengenal, mereka menggunakan aku-kamu sebagai kata ganti, tetapi berbeda saat berada di sekitar gengnya, entahlah.</p>

<p>“Wah, ada <em>chance</em> buat lawan satu sama lain kali ya, Kak.”</p>

<p>Heeseung menoleh, “taruhan yuk!” Usulnya tiba-tiba.</p>

<p>Sunghoon mengerutkan kening, “apa?”</p>

<p>“Yang badminton.”</p>

<p>“Oke apa, Kak?”</p>

<p>“Kalo aku menang, kamu antar jemput aku sebulan di semester 2 dan sebaliknya.”</p>

<p>Sunghoon menelengkan kepala, rumah Heeseung, terletak lebih jauh dari sekolah daripada miliknya, ia harus ke barat terlebih dahulu, kemudian kembali ke timur. “Hm... Enak di Kakak donk, ngga perlu puter balik.”</p>

<p>“Kalo gitu, apa?”</p>

<p>“Eh tapi, kalo Kakak menang, aku antar jemput sebulan di semester 2, kalo aku menang...”</p>

<p>“Apa?” Heeseung bertanya karena Sunghoon berhenti.</p>

<p>“Belum kepikiran, Kak.”</p>

<p>Mereka melanjutkan langkah.</p>

<p>“Yaudah, kalo udah kepikiran, bilang.”</p>

<p>Sunghoon mengangguk.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Hanya tinggal beberapa kendaraan di halaman parkir yang kini mulai kosong. Sunghoon naik ke bagian parkir guru untuk mengambil motor papanya. Sebelumnya, ia mengabari bahwa ia akan mulai berjalan pulang.</p>

<p>“Sunghoon.”</p>

<p>Sunghoon menghentikan laju motornya di samping Heeseung yang ternyata masih berhenti di ujung jalan.</p>

<p>“Apa Kak?”</p>

<p>“Aku di belakang kamu, ayo jalan.”</p>

<p>Dan Sunghoon membiarkan lelaki yang ia taksir sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini mengawalnya.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Tadi dianter siapa, Sayang?” Itu ayahnya, membawa satu gelas coklat hangat untuk menemani Sunghoon membaca bukunya.</p>

<p>Sunghoon mengulet sedikit, “ih, Ayah tau dari manaaa?” mengambil gelas dari tangan ayahnya.</p>

<p>“Ayah kan liat.” mendudukkan diri di kasur milik putranya.</p>

<p>“Kenapa ngga jadi kencan sihhh?”</p>

<p>“Besok kamu remidial soalnya.”</p>

<p>“Astaga, besok aku ultah padahal, ini kadonya ujian ulang mapel papa yang ada,” bersungut.</p>

<p>“Haha, ngga lupa kalo besok ultah Kakak. Masih pengen apa?”</p>

<p>Sunghoon menerawang, “beliin motor buat sendiri aja, boleh ngga?”</p>

<p>“Nanti bilang papamu, okay?”</p>

<p>Sunghoon mengangguk, “Yah?”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Ayah keberatan ngga kalo Sunghoon sama kak Heeseung?” Sunghoon bertanya pelan.</p>

<p>“Heeseung yang sering kamu ceritain itu ya?” ayahnya menepuk sisi kosong di kasurnya, meminta Sunghoon untuk mendekat.</p>

<p>“Iya... yang nolongin Sunghoon waktu kena bola basket itu.” Sunghoon menempatkan diri di samping ayahnya, meminta bantalan lengan.</p>

<p>“Ayah ngga keberatan.” ujarnya sembari mengusap pucuk kepala Sunghoon.</p>

<p>“Tapi, Yah... Sunghoon kaya serakah banget ngga sih? Udah dapet cinta yang cukup dari papa, ayah, adek... ini Sunghoon masih pengen sama kak Heeseung juga.” merapatkan diri, membiarkan netranya hampir tertutup.</p>

<p>“Cintanya beda, Sayang... nanti kamu bakal tahu, sekarang, yang penting kalau Sunghoon yakin dia rasa buat kamu, ya trabas aja.”</p>

<p>Sunghoon tersenyum, “Ayah bobo sini sama Sunghoon, biarin papa sendirian.”</p>

<p>Ayahnya terkekeh kecil, melanjutkan membelai rambut Sunghoon hingga memastikannya memasuki alam mimpi.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Remidialnya berjalan lancar, meski beberapa kali papanya melirik Sunghoon.</p>

<p>Yang membuat terkesan hari ini... sebenarnya ada dua, yang pertama, ayah dan papanya memberinya kejutan pagi tadi. Memberinya selamat ulang tahun dan benar-benar diberi hadiah motor. Kemudian, teman-temannya yang juga menghujaninya dengan hadiah, tidak lupa sedikit kejahilan mereka.</p>

<p>Sunghoon menenteng satu kardus berat berisi hadiah miliknya dengan susah payah. Ia hampir saja menabrak seseorang di tikungan menuju tangga, sebelum satu suara menyelamatkannya.</p>

<p>“Hoon.”</p>

<p>Sunghoon berhenti.</p>

<p>“Sini aku bawain, repot banget kayanya.”</p>

<p>Dan siapa Sunghoon mampu menolak, “makasih, Kak.”</p>

<p>“Pulang sendiri?”</p>

<p>Sunghoon membawa bagiannya yang sudah dibagi dua, “sama papa.”</p>

<p>Heeseung mengangguk mengerti, “Hoon.”</p>

<p>“Ya?” ia menapak tangga dengan hati-hati.</p>

<p>“Hadiahnya, nunggu setelah <em>class meeting</em> selesai, ngga papa?”</p>

<p>“Hah? Hadiah apa?”</p>

<p>“Ultah kamu.”</p>

<p>“Haha, ngga usah dipikirin kali, Kak.”</p>

<p>“Ngga dipikirin juga kamu udah menetap kok.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Ngga. Tuh Pak Wonwoo.” Heeseung menunjuk dengan dagunya.</p>

<p>“Iya... makasih, Kak.”</p>

<p>“Sama-sama.” katanya sembari menyalami guru sejarahnya, juga berpamitan undur diri.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Oh, itu yang bikin kamu sabotase ayah semalem.”</p>

<p>“Apaan sabotase?” Sunghoon melirik.</p>

<p>“Udah sana naik, ayahmu nitip ke <em>bakery</em>.”</p>

<p>Sunghoon menuruti papanya.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p><em>Class meeting</em> hari ini berlangsung meriah, dibuka dengan apel pagi dan sambutan kepala sekolah, dilanjutkan dengan berbagai lomba untuk diikuti dan disaksikan.</p>

<p>Lomba pertama, memasak antar kelas, lomba ini mengharuskan setiap siswa ikut serta. Karena lomba ini cukup memakan waktu, jadi lomba berikutnya akan diteruskan esok hari.</p>

<p>Lomba ke-dua di hari berikutnya, ada lomba kelompok kecepatan, ketangkasan, dan kecerdasan. Ini seru karena akan ada banyak sekali hal-hal menarik, seperti memasukkan bola ping pong ke dalam galon dengan bambu, melewati gelas kertas dengan mata tertutup, dan cerdas cermat. Banyak sekali suara dan tawa, Sunghoon menikmatinya.</p>

<p>Badmintonnya dilaksanakan di hari ke-tiga. Ia akan melawan 10 IPA 3, di babak pertama.</p>

<p>Lawannya, seimbang, karena cukup tangkas untuk bermain. Menerima servicenya dengan baik, dan gesit. Hampir saja meleset, namun Sunghoon maju ke babak berikutnya.</p>

<p>Di lain tempat di waktu yang sama, ada beberapa lomba lain yang sedang berlangsung, Sunghoon menengok sebentar sambil beristirahat.</p>

<p>Lawan kedua dari kelas 12 IPS 1, lawannya agak mudah karena berkali-kali oleng, Sunghoon sempat membantunya berdiri di akhir permainan.</p>

<p>Kemudian, lawan terakhirnya... Heeseung, 12 IPA 1.</p>

<p>“Siap, Hoon? Udah kepikiran apa yang dimau?”</p>

<p>Sunghoon tersenyum, “nanti aja, Kak.”</p>

<p>Heeseung mengangguk dan mulai pemanasan.</p>

<p>Koin jatuh pada bagian Sunghoon, ia membuat <em>service</em> pertama begitu baik, bergerak gesit mengejar <em>shuttlecock</em> dan meraih skor berkejaran dengan Heeseung.</p>

<p>Hampir, skornya sudah dua puluh, ayo satu lagi.</p>

<p>Tetapi tidak, Sunghoon jatuh terjerembab karena tersandung kakinya sendiri.</p>

<p>Beberapa siswa berhambur menolong. Lututnya berdarah, kakinya terkilir, dan sikunya pun tergores. Segera saja ia dibawa ke UKS untuk mendapat penanganan.</p>

<p>Heeseung muncul setelah lukanya sudah diobati, membawakan air hangat untuknya, “maaf, tadi beresin perlombaan dikit.”</p>

<p>Sunghoon mengangguk, “aku kalah ya, Kak?”</p>

<p>Alis Heeseung naik sebelah, “skornya udah beda 4 angka, dan waktu kamu jatuh, itu masuk kok. Jadi kamu menang, skor kamu dua puluh satu.”</p>

<p>“Ini Kakak ngga ngalah kan?” selidiknya.</p>

<p>“Mana mau aku ngalah, Hoon. Kamu mainnya bagus.”</p>

<p>Sunghoon merasakan wajahnya memanas.</p>

<p>“Terkilir katanya?” Pak Wonwoo masuk setelah mengetuk pintu UKS.</p>

<p>Heeseung menyingkir dari tempatnya berdiri, hampir saja ia keluar.</p>

<p>“Di sini saja, Heeseung. Boleh kan saya minta temani anak saya?”</p>

<p>Heeseung mengangguk kaku.</p>

<p>“Udah baik kakinya?”</p>

<p>Sunghoon mengangguk, “udah, Pa.”</p>

<p>“Papa tinggal ngga papa?”</p>

<p>Seunghoon mengangguk lagi.</p>

<p>“Anak saya, dijagain ya, Heeseung. Asal jangan lupa belajar juga.”</p>

<p>Heeseung mengangguk kaku. Berdiri diam beberapa saat meski Pak Wonwoo sudah hilang dari pandangan.</p>

<p>“Maaf, aku cerita tentang Kakak ke ayah sama papa. Kalau Kakak ngga nyaman, aku bakal bilang sama mereka.”</p>

<p>Heeseung akhirnya mengerjab, “Hoon, coba apa permintaan kamu kalo kamu menang?”</p>

<p>Sunghoon mengambil jari Heeseung yang menganggur, “Kakak jadi pacar Sunghoon.”</p>

<p>“Hah?” Heeseung mengedip cepat, “ngga salah? Bukannya kamu pacaran sama Samuel anak kelas sebelah?”</p>

<p>“Gosip dari mana sih?”</p>

<p>“Ngga penting, tapi, enak aja kamu yang nembak aku. Emang yakin aku suka kamu?”</p>

<p>Sunghoon berjengit pelan, “oh, Kakak udah ada pacar?”</p>

<p>“Udah,” ucapnya tergantung.</p>

<p>Sunghoon menunduk.</p>

<p>“Ini sekarang lagi mainin jari aku.”</p>

<p>Dan Sunghoon mencubit lengan Heeseung. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Anjir, lawan lo Sunghoon. Dah alamat kita ngga dapet kejuaraan di badminton, <em>guys</em>.”</p>

<p>Heeseung mengerling pada Beomgyu, teman sekelasnya.</p>

<p>“Gantinya, lo beneran harus nembak dia, Hee! Awas aja engga.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p><strong><em>kkeut</em></strong></p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/dua-puluh-satu</guid>
      <pubDate>Mon, 01 Aug 2022 11:07:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Paint </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/paint-x8s7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;Seungzz Kue Beras Spin off &#xA;&#xA;  Seungwoo and Seungyoun finger painting with their child. Kue Beras if Seungwoo just stay with Seungyoun, no fiancé, no accident, and just them with Esa.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;!--more-- &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Langit cerah di Minggu pagi ini. Seungwoo yang sedang mengaduk adonan pancakenya dan dengan Seungyoun yang menyiapkan alat-alat yang entah untuk apa. &#xA;&#xA;&#34;Youn.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau bikin apa hari ini, Pippi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Finger paint.&#34; jawabnya, masih berkutat dengan kesibukannya. &#xA;&#xA;&#34;Ada tugas sekolah buat Esa?&#34; &#xA;&#xA;Seungyoun menoleh, &#34;no, I just want to displaying them at the living room.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo mengangguk, tersenyum dan mulai mematangkan makanan yang akan ia buat. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Kemudian yang kalian proyeksikan adalah, ruang keluarga yang cukup luas, dengan banyak sekali cat minyak berceceran di lantai, tiga lelaki berbeda usia, memakai baju putih yang tak lagi bersih. &#xA;&#xA;&#34;Hahahahaha!&#34; Itu suara jernih milik anak lelaki paling kecil di antara mereka, &#34;Papa kena cat!&#34; Ia berlari mengitari ruang, mencoba menempelkan tangan yang berlumuran cat kemana pun. &#xA;&#xA;Seungwoo mengejarnya, terkekeh kemudian menangkapnya, meletakkan tangan yang berwarna biru di depan kaos milik putranya, &#34;Esa juga kena!&#34; dan menggelitikinya. &#xA;&#xA;&#34;Ampuuunnn, Papaaa geliiii. Hahahahah.&#34; &#xA;&#xA;Seungyoun ikut menggelitiki anaknya pula. &#xA;&#xA;tawa mereka bercampur baur, mengabaikan kertas yang bahkan belum tersentuh sama sekali. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;RSSZ3rdAnniversary&#xA;&#xA;© Coffielicious]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p><em>Seungzz Kue Beras Spin off</em></p>

<blockquote><p><em>Seungwoo and Seungyoun finger painting with their child. Kue Beras if Seungwoo just stay with Seungyoun, no fiancé, no accident, and just them with Esa.</em></p></blockquote>

<p>.</p>

 

<p>.</p>

<p>Langit cerah di Minggu pagi ini. Seungwoo yang sedang mengaduk adonan <em>pancake</em>nya dan dengan Seungyoun yang menyiapkan alat-alat yang entah untuk apa.</p>

<p>“Youn.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Mau bikin apa hari ini, Pippi?”</p>

<p>“<em>Finger paint</em>.” jawabnya, masih berkutat dengan kesibukannya.</p>

<p>“Ada tugas sekolah buat Esa?”</p>

<p>Seungyoun menoleh, “<em>no, I just want to displaying them at the living room</em>.”</p>

<p>Seungwoo mengangguk, tersenyum dan mulai mematangkan makanan yang akan ia buat.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Kemudian yang kalian proyeksikan adalah, ruang keluarga yang cukup luas, dengan banyak sekali cat minyak berceceran di lantai, tiga lelaki berbeda usia, memakai baju putih yang tak lagi bersih.</p>

<p>“Hahahahaha!” Itu suara jernih milik anak lelaki paling kecil di antara mereka, “Papa kena cat!” Ia berlari mengitari ruang, mencoba menempelkan tangan yang berlumuran cat kemana pun.</p>

<p>Seungwoo mengejarnya, terkekeh kemudian menangkapnya, meletakkan tangan yang berwarna biru di depan kaos milik putranya, “Esa juga kena!” dan menggelitikinya.</p>

<p>“Ampuuunnn, Papaaa geliiii. Hahahahah.”</p>

<p>Seungyoun ikut menggelitiki anaknya pula.</p>

<p>tawa mereka bercampur baur, mengabaikan kertas yang bahkan belum tersentuh sama sekali.</p>

<p>.</p>

<p><strong><em>RSSZ3rdAnniversary</em></strong></p>

<p>© Coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/paint-x8s7</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Jul 2022 03:32:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ordinary</title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/ordinary?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;A Seungzz short AU&#xA;&#xA;.&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Halte bus sepi, mengingat ini masih jam kerja. Seungwoo menyesap kopi dalam cup yang baru saja ia beli. &#xA;&#xA;Namun, crash. &#xA;&#xA;Tumpah, karena senggolan anak kecil yang sedang bermain di dekatnya. &#xA;&#xA;Seungwoo mengerjab, kemudian menerima uluran sapu tangan dan mengangguk atas permintaan maaf orang tua sang anak. &#xA;&#xA;Cardigan putihnya, kini memiliki bercak. &#xA;&#xA;Bus nya masih lama. Ia keluarkan headset dari dalam kantongnya. &#xA;&#xA;Ia menggigit bibir, kabelnya tergulung tak beraturan. &#xA;&#xA;Ia urai perlahan kemudian dia salurkan musik untuk ia dengar. &#xA;&#xA;Hela napasnya panjang, beranjak sejenak untuk membuang cup kopi yang kini kosong. &#xA;&#xA;Ia kembali terhenti, sepatu sendal yang ia pakai, terputus. &#xA;&#xA;Ingin rasanya ia berteriak kesal, namun urung. Ia biarkan tali sendalnya yang terputus. &#xA;&#xA;Ia duduk kembali untuk melihat gedung seberang yang tadi ia datangi, lagi-lagi ia belum berhasil mendapat perkerjaan impiannya kali ini. &#xA;&#xA;Seungwoo mengulum bibirnya, menggumam lagu yang ia tangkap dari indera pendengarnya. &#xA;&#xA;Sebuah sedan metalik melaju kencang menujunya dan tidak lama, genangan air mengguyurnya tanpa ampun. &#xA;&#xA;&#34;Shi-&#34; &#xA;&#xA;Ia hela napas panjang, terlalu panjang. &#xA;&#xA;Akan ada apa lagi hari ini? &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Busnya belum juga tiba. &#xA;&#xA;&#34;Hei, i don&#39;t know this fit your feet or not, but, please try it.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo mendongak, sepertinya ia terlalu terlihat menyedihkan di mata lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya. &#xA;&#xA;&#34;Just, ugh i don&#39;t know, you just sitting there without complaint what happened to you.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo masih mengamati kotak sepatu yang dibawa oleh lelaki itu. Ia ambil dan mencobanya, &#34;it&#39;s fits.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Yeah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm-hm. Thank you.&#34; Senyumnya memunculkan satu dekik kecil di sisi pipinya. &#xA;&#xA;&#34;Oh, your welcome.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Han Seungwoo.&#34; &#xA;&#xA;Ada kerutan dahi, namun kemudian senyum menambah paras manisnya, &#34;Cho Seungyoun.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;May Seungwoo says, that his life is beautiful?&#xA;&#xA;@coffielicious]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p>A Seungzz short AU</p>

<p>.
</p>

<p>Halte bus sepi, mengingat ini masih jam kerja. Seungwoo menyesap kopi dalam <em>cup</em> yang baru saja ia beli.</p>

<p>Namun, <em>crash</em>.</p>

<p>Tumpah, karena senggolan anak kecil yang sedang bermain di dekatnya.</p>

<p>Seungwoo mengerjab, kemudian menerima uluran sapu tangan dan mengangguk atas permintaan maaf orang tua sang anak.</p>

<p>Cardigan putihnya, kini memiliki bercak.</p>

<p>Bus nya masih lama. Ia keluarkan <em>headset</em> dari dalam kantongnya.</p>

<p>Ia menggigit bibir, kabelnya tergulung tak beraturan.</p>

<p>Ia urai perlahan kemudian dia salurkan musik untuk ia dengar.</p>

<p>Hela napasnya panjang, beranjak sejenak untuk membuang <em>cup</em> kopi yang kini kosong.</p>

<p>Ia kembali terhenti, sepatu sendal yang ia pakai, terputus.</p>

<p>Ingin rasanya ia berteriak kesal, namun urung. Ia biarkan tali sendalnya yang terputus.</p>

<p>Ia duduk kembali untuk melihat gedung seberang yang tadi ia datangi, lagi-lagi ia belum berhasil mendapat perkerjaan impiannya kali ini.</p>

<p>Seungwoo mengulum bibirnya, menggumam lagu yang ia tangkap dari indera pendengarnya.</p>

<p>Sebuah sedan metalik melaju kencang menujunya dan tidak lama, genangan air mengguyurnya tanpa ampun.</p>

<p>“<em>Shi-</em>“</p>

<p>Ia hela napas panjang, terlalu panjang.</p>

<p>Akan ada apa lagi hari ini?</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Busnya belum juga tiba.</p>

<p>“Hei, <em>i don&#39;t know this fit your feet or not, but, please try it.</em>“</p>

<p>Seungwoo mendongak, sepertinya ia terlalu terlihat menyedihkan di mata lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya.</p>

<p>“<em>Just, ugh i don&#39;t know, you just sitting there without complaint what happened to you.</em>“</p>

<p>Seungwoo masih mengamati kotak sepatu yang dibawa oleh lelaki itu. Ia ambil dan mencobanya, “<em>it&#39;s fits.</em>“</p>

<p>“Yeah?”</p>

<p>“Hm-hm. <em>Thank you.</em>” Senyumnya memunculkan satu dekik kecil di sisi pipinya.</p>

<p>“Oh, <em>your welcome.</em>“</p>

<p>“Han Seungwoo.”</p>

<p>Ada kerutan dahi, namun kemudian senyum menambah paras manisnya, “Cho Seungyoun.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p><em>May Seungwoo says, that his life is beautiful?</em></p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/ordinary</guid>
      <pubDate>Sun, 05 Jun 2022 02:03:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Caramel Custard </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/caramel-custard?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Kue Beras last part&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA; !--more-- &#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Pagi hari, waktu tersibuk diantara lainnya. &#xA;&#xA;Ada tiga lelaki dengan kegiatannya masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Ppiii!!! Celana hitam Esa engga ketemuu!!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sayang, dasi navy aku di mana ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kak Woo, ini mana bekal aku jadinya?&#34; &#xA;&#xA;Dan semakin bersahutan. Pening, namun di sisi lain, sesuatu yang hangat tergambarkan. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Di tahun pertama setelah Seungyoun sadar, ia masih harus menjalani perawatan untuk pemulihan. &#xA;&#xA;Di tahun ke-dua, Seungwoo mencoba melamar. &#xA;&#xA;Ia bawa lelaki yang bertahun ia tunggu ke sebuah pantai pesisir, berlutut memintanya menjadi penyita seluruh sisa usianya. &#xA;&#xA;Namun Seungyoun menolak, &#34;kok Kakak yang ngelamar aku? Aku udah nyiapin cinciinnn!! Simpen! Besok, Youn yang lamar Kakak.&#34; &#xA;&#xA;Jantung Seungwoo yang hampir terjatuh, tertata kembali, kemudian tergelak. Memeluk lelaki yang meskipun tinggi, masih tenggelam dalam dekapannya, &#34;iya, oke. Cincinnya kasih Esa aja, boleh?&#34; &#xA;&#xA;Anggukan di pundaknya membuatnya tersenyum, &#34;iya. Lain kali tuh, ngga usah ngasih surprise. Kan aku udah nyiapin acara juga ih. Keduluan.&#34; kerucutan bibirnya, terasa sekali. &#xA;&#xA;&#34;Iya, besok Youn lamar Kakak, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm-hm.&#34; &#xA;&#xA;Pada akhirnya, mereka menghabiskan liburan kecil bertiga. &#xA;&#xA;Di tahun ke-tiga. &#xA;&#xA;Seungyoun benar-benar meminang Seungwoo. Menyumpahinya agar selalu jatuh cinta padanya tanpa henti. &#xA;&#xA;Di tahun ke-empat. &#xA;&#xA;Mereka meminta persetujuan Eunsang untuk mengadopsi. Tetapi belum, Esa masih ingin kedua orang tuanya untuk dirinya sendiri. Dan mereka mengerti. &#xA;&#xA;Di tahun ke-lima. &#xA;&#xA;Mereka bertekad berpindah rumah. Country side adalah pilihan terbaik. &#xA;&#xA;Tidak terlalu jauh dari kota, tidak pula terlalu sepi. &#xA;&#xA;Di tahun ke-enam. &#xA;&#xA;Mereka masih akan terus membangun chemistry sepanjang hari. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Udah siap?&#34; Seungwoo mengisyaratkan Seungyoun untuk menggandeng lengannya. &#xA;&#xA;Mereka sudah rapi dengan tuksedo hitam yang senada. Rambut yang tertata halus. Dan bersiap untuk melangkah masuk.&#xA;&#xA;Lelaki di sampingnya, menghela napas dan menghembuskannya perlahan, &#34;hm-hm.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo menunduk, mengecup pelan ujung pelipis milik lelaki separuh nyawanya. &#xA;&#xA;&#34;Mau coba bilang buat adopsi lagi ngga sama Esa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Beneran deh!&#34; Seungyoun memukulnya main-main, &#34;aku tegang, Kak. Aduh kamu tuh.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo, tidak pernah melunturkan senyum dari bibirnya, &#34;Kalo ngga ya nunggu aja nanti bayi kecil punya Esa.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo dia mau ya, Kak?&#34; Seungyoun meremas tangannya. &#xA;&#xA;&#34;Iya. Udah yuk, ditunggu sama calon besan.&#34; &#xA;&#xA;Yes, calon besan. &#xA;&#xA;The are, growing up. &#xA;&#xA;Pada satu titik hingga Eunsang mengenalkan seseorang di hadapan mereka, hingga ia meminta restu kedua orang tuanya. &#xA;&#xA;Seungyoun menangis saat itu, pula dengan Seungwoo. &#xA;&#xA;Perjalanan mereka, jauh, panjang, melelahkan. &#xA;&#xA;Namun sampai. &#xA;&#xA;Sampai pada muara yang seharusnya terhenti. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Seungyoun mendongak ketika mendengar isakan dari sampingnya. &#xA;&#xA;&#34;Maaf, buat semua hal yang dulu pernah aku lakuin, Love.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ssstt, it&#39;s over, okay? Kamu bahkan nungguin aku bangun dari koma, sabar banget ngerawat aku. Dan jagain Esa waktu aku ngga ada. Sekarang Esa udah ada yang jagain juga. Kita tebus bareng-bareng setelah ini. Is that okay?&#34; Seungyoun menyandarkan kepalanya. Menyaksikan putra semata wayangnya melepas lajang di depan maniknya. &#xA;&#xA;Seungwoo merengkuh pinggang Seungyoun perlahan, &#34;I love you, till the things never change.&#34; &#xA;&#xA;Seungyoun mengerling, &#34;ciumnya nanti ya, ngalahin yang lagi jadi pengantin baru hari ini.&#34; &#xA;&#xA;Seungwoo hanya tertawa renyah. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ia berjalan perlahan, menghampiri dua lelaki paruh baya yang berdiri di depan hidangan caramel custard, &#34;dicariin sama Esa lho dari tadi. Ini dua bapak makaann mulu.&#34; &#xA;&#xA;Dan mereka berbalik, salah satunya, menyuapi sepucuk sendok makanan penutup itu, kemudian memeluknya. Masing-masing dari mereka mengecup sisi pipi Eunsang dengan sayang, &#34;we love you, our lil miracle.&#34; &#xA;&#xA;Eunsang tersenyum, membalas kecupan papa dan pippinya, &#34;mau kue beras ngga?&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Pada keseluruhan akhirnya, yang terdengar hanya tawa bahagia. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;-kkeut. &#xA;&#xA;ps. it&#39;s a loong ass ps. &#xA;&#xA;Yes, it&#39;s over. Happy wedding our kak Esa!!! Aaannddd Happily ever after to our Kue Beras Couple!!&#xA;&#xA;Makasih banyak yang udah mau nungguin kue beras sejauh iniii!!! please love rssz as much as you can! &#xA;&#xA;Aku terharu, akhirnya aku bisa nulis part terakhir dari salah satu karya aku yang... sebenernya masih perlu banyak dibenahi ini. &#xA;&#xA;Really, makasih banyak buat penghuni kapal inii, yang masih stay, ataupun yang sudah nambah kapal, atau bahkan yang masih baru. hehe. &#xA;&#xA;Please take care of yourself, stay healthy and happy. &#xA;&#xA;Anyway, maybe i&#39;ll write seungzz again in the future, please wait for mee!!&#xA;&#xA;ps. it&#39;s my birthday todayy!! hehe. &#xA;&#xA;Have a good daayy!! &#xA;&#xA;© coffielicious. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Kue Beras <em>last part</em></p>

<hr/>

<p> 
.</p>

<p>.</p>

<p>Pagi hari, waktu tersibuk diantara lainnya.</p>

<p>Ada tiga lelaki dengan kegiatannya masing-masing.</p>

<p>“Ppiii!!! Celana hitam Esa engga ketemuu!!”</p>

<p>“Sayang, dasi <em>navy</em> aku di mana ya?”</p>

<p>“Kak Woo, ini mana bekal aku jadinya?”</p>

<p>Dan semakin bersahutan. Pening, namun di sisi lain, sesuatu yang hangat tergambarkan.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Di tahun pertama setelah Seungyoun sadar, ia masih harus menjalani perawatan untuk pemulihan.</p>

<p>Di tahun ke-dua, Seungwoo mencoba melamar.</p>

<p>Ia bawa lelaki yang bertahun ia tunggu ke sebuah pantai pesisir, berlutut memintanya menjadi penyita seluruh sisa usianya.</p>

<p>Namun Seungyoun menolak, “kok Kakak yang ngelamar aku? Aku udah nyiapin cinciinnn!! Simpen! Besok, Youn yang lamar Kakak.”</p>

<p>Jantung Seungwoo yang hampir terjatuh, tertata kembali, kemudian tergelak. Memeluk lelaki yang meskipun tinggi, masih tenggelam dalam dekapannya, “iya, oke. Cincinnya kasih Esa aja, boleh?”</p>

<p>Anggukan di pundaknya membuatnya tersenyum, “iya. Lain kali tuh, ngga usah ngasih <em>surprise</em>. Kan aku udah nyiapin acara juga ih. Keduluan.” kerucutan bibirnya, terasa sekali.</p>

<p>“Iya, besok Youn lamar Kakak, ya?”</p>

<p>“Hm-hm.”</p>

<p>Pada akhirnya, mereka menghabiskan liburan kecil bertiga.</p>

<p>Di tahun ke-tiga.</p>

<p>Seungyoun benar-benar meminang Seungwoo. Menyumpahinya agar selalu jatuh cinta padanya tanpa henti.</p>

<p>Di tahun ke-empat.</p>

<p>Mereka meminta persetujuan Eunsang untuk mengadopsi. Tetapi belum, Esa masih ingin kedua orang tuanya untuk dirinya sendiri. Dan mereka mengerti.</p>

<p>Di tahun ke-lima.</p>

<p>Mereka bertekad berpindah rumah. <em>Country side</em> adalah pilihan terbaik.</p>

<p>Tidak terlalu jauh dari kota, tidak pula terlalu sepi.</p>

<p>Di tahun ke-enam.</p>

<p>Mereka masih akan terus membangun <em>chemistry</em> sepanjang hari.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Udah siap?” Seungwoo mengisyaratkan Seungyoun untuk menggandeng lengannya.</p>

<p>Mereka sudah rapi dengan tuksedo hitam yang senada. Rambut yang tertata halus. Dan bersiap untuk melangkah masuk.</p>

<p>Lelaki di sampingnya, menghela napas dan menghembuskannya perlahan, “hm-hm.”</p>

<p>Seungwoo menunduk, mengecup pelan ujung pelipis milik lelaki separuh nyawanya.</p>

<p>“Mau coba bilang buat adopsi lagi ngga sama Esa?”</p>

<p>“Beneran deh!” Seungyoun memukulnya main-main, “aku tegang, Kak. Aduh kamu tuh.”</p>

<p>Seungwoo, tidak pernah melunturkan senyum dari bibirnya, “Kalo ngga ya nunggu aja nanti bayi kecil punya Esa.”</p>

<p>“Kalo dia mau ya, Kak?” Seungyoun meremas tangannya.</p>

<p>“Iya. Udah yuk, ditunggu sama calon besan.”</p>

<p><em>Yes, calon besan.</em></p>

<p><em>The are, growing up.</em></p>

<p>Pada satu titik hingga Eunsang mengenalkan seseorang di hadapan mereka, hingga ia meminta restu kedua orang tuanya.</p>

<p>Seungyoun menangis saat itu, pula dengan Seungwoo.</p>

<p>Perjalanan mereka, jauh, panjang, melelahkan.</p>

<p>Namun sampai.</p>

<p>Sampai pada muara yang seharusnya terhenti.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Seungyoun mendongak ketika mendengar isakan dari sampingnya.</p>

<p>“Maaf, buat semua hal yang dulu pernah aku lakuin, <em>Love</em>.”</p>

<p>“Ssstt, <em>it&#39;s over, okay</em>? Kamu bahkan nungguin aku bangun dari koma, sabar banget ngerawat aku. Dan jagain Esa waktu aku ngga ada. Sekarang Esa udah ada yang jagain juga. Kita tebus bareng-bareng setelah ini. <em>Is that okay</em>?” Seungyoun menyandarkan kepalanya. Menyaksikan putra semata wayangnya melepas lajang di depan maniknya.</p>

<p>Seungwoo merengkuh pinggang Seungyoun perlahan, “<em>I love you, till the things never change.</em>“</p>

<p>Seungyoun mengerling, “ciumnya nanti ya, ngalahin yang lagi jadi pengantin baru hari ini.”</p>

<p>Seungwoo hanya tertawa renyah.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Ia berjalan perlahan, menghampiri dua lelaki paruh baya yang berdiri di depan hidangan <em>caramel custard</em>, “dicariin sama Esa lho dari tadi. Ini dua bapak makaann mulu.”</p>

<p>Dan mereka berbalik, salah satunya, menyuapi sepucuk sendok makanan penutup itu, kemudian memeluknya. Masing-masing dari mereka mengecup sisi pipi Eunsang dengan sayang, “<em>we love you, our lil miracle</em>.”</p>

<p>Eunsang tersenyum, membalas kecupan papa dan pippinya, “mau kue beras ngga?”</p>

<p>.</p>

<p>Pada keseluruhan akhirnya, yang terdengar hanya tawa bahagia.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>-kkeut.</p>

<p>ps. it&#39;s a loong ass ps.</p>

<p>Yes, it&#39;s over. Happy wedding our kak Esa!!! Aaannddd Happily ever after to our Kue Beras Couple!!</p>

<p>Makasih banyak yang udah mau nungguin kue beras sejauh iniii!!! please love rssz as much as you can!</p>

<p>Aku terharu, akhirnya aku bisa nulis part terakhir dari salah satu karya aku yang... sebenernya masih perlu banyak dibenahi ini.</p>

<p>Really, makasih banyak buat penghuni kapal inii, yang masih stay, ataupun yang sudah nambah kapal, atau bahkan yang masih baru. hehe.</p>

<p>Please take care of yourself, stay healthy and happy.</p>

<p>Anyway, maybe i&#39;ll write seungzz again in the future, please wait for mee!!</p>

<p>ps. it&#39;s my birthday todayy!! hehe.</p>

<p>Have a good daayy!!</p>

<p>© coffielicious.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/caramel-custard</guid>
      <pubDate>Mon, 25 Apr 2022 03:36:44 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chamber 5 </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-1tc7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;  cw // non baku conversation. &#xA;&#xA;  tw // some Lintang&#39;s past trauma. Abusive parent.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;!--more-- &#xA;&#xA;&#34;Ngapain?&#34; Lintang sadar ia berada dalam mimpinya lagi. Kali ini, ada Renja menemani. &#xA;&#xA;&#34;Katanya minta ditemenin.&#34; &#xA;&#xA;Lintang yang masih berbaring, hanya memejam, &#34;kemarin ke mana?&#34; menutup mata dengan lengannya. &#xA;&#xA;&#34;Mau nyoba ngga muncul aja di mimpi Lintang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Males banget. Kapan bangun?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nanti.&#34; &#xA;&#xA;Kemudian hening. &#xA;&#xA;&#34;Nanti ya Lintang, kalo semuanya udah selesai.&#34; &#xA;&#xA;Lintang tidak menjawab, hanya bergeser pelan, meletakkan kepalanya di atas paha Renja, &#34;minta puk-puk, biasanya aku langsung bobo.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku?&#34; &#xA;&#xA;Lintang mendongak, &#34;ngga boleh?&#34; &#xA;&#xA;Renja tersenyum tipis, &#34;boleh. Buat latihan ya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apa-apaan.&#34; &#xA;&#xA;Renja mengelus pelan sisi kepala Lintang, meletakkannya dengan halus di pangkuannya, &#34;mau cerita ngga harinya Lintang gimana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Harus?&#34; menyamankan diri, membiarkan hidungnya mengusak perut Renja. &#xA;&#xA;&#34;Geli, Lintang. Ngga harus kok, kalo ngga mau, ngga perlu cerita,&#34; membelai rambut Lintang agar kembali tidur. &#xA;&#xA;&#34;Ketemu Renja kan tadi, abis itu nongkrong bentar di café nya kak Jingga, malemnya makan sama keluarga Lazuardi.&#34; &#xA;&#xA;Renja berdehem, &#34;besok?&#34; &#xA;&#xA;Lintang menahan napas, &#34;ketemu bapak.&#34; &#xA;&#xA;Renja menunduk, &#34;boleh cium kepala Lintang ngga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;HAH?&#34; &#xA;&#xA;dan dahi mereka bertemu. &#xA;&#xA;&#34;Ouch!&#34; bersamaan, memegang ujung pelipis masing-masing. &#xA;&#xA;&#34;Boleh, tapi puk-puk lagi.&#34; Lintang kembali meletakkan kepalanya, kali ini netranya lurus menatap Renja. &#xA;&#xA;Renja merendahkan badan atasnya, kemudian membiarkan bibirnya menyapa dahi milik lelaki yang lainnya, &#34;tidur nyenyak, Lintang.&#34; &#xA;&#xA;Dan ia menghilang, seiring Lintang kembali memasuki istirahatnya hari ini. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ketukan di pintu kamar membuatnya terbangun. Sudah pagi, dan Lintang masih terlentang di ujung ranjang. &#xA;&#xA;&#34;Udah bangun, Kak Zua.&#34; menjawab Zura yang masih di depan pintu. &#xA;&#xA;&#34;Oke, Kakak tunggu di bawah ya, Ganteng.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke, Kak.&#34; seraya beranjak gontai untuk membersihkan diri. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Perjalanan kali ini, disopiri oleh Silvery, di samping kursi kemudi ada Zura menemani. Lintang, masih anteng di bagian tengah mobil. Memainkan ponsel untuk sekadar mengabari Antares dan Jeya. &#xA;&#xA;&#34;Tidur aja lagi kalo masih ngantuk, Nja.&#34; itu Azure. &#xA;&#xA;&#34;Gantian tidurnya sama Kak Zua?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, pulangnya biar Kakak yang tidur.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Yeeee.&#34; mencebik, &#34;Enja ngga ngantuk, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Lintang kembali memainkan handphone, sembari mendengarkan tipis-tipis obrolan kedua kakaknya. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Masih lengang. &#xA;&#xA;Lintang melamun, ia merasa kosong. &#xA;&#xA;&#34;Kalau belum mau ketemu, tunggu di mobil dulu aja ngga papa, Nja.&#34; Zura menggenggam tangannya. &#xA;&#xA;Lintang membalas gandengan mereka, &#34;jangan tinggalin Nja, Kak.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lintang menatap lurus pada laki-laki paruh baya di seberang duduknya yang terhalang meja. Wajahnya mulai memiliki keriput, kelopak matanya yang sayu, dan bibir yang pucat. &#xA;&#xA;&#34;Maaf.&#34; satu kata yang sedari tadi terulang. &#xA;&#xA;Lintang menunduk, memainkan kaitan jemarinya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Maafkan Bapak, Lintang.&#34; &#xA;&#xA;Lintang setengah tidak percaya, namun satu foto masa kecil yang sudah lusuh memberikan satu rasa yang ia tidak pernah tahu, ada. &#xA;&#xA;Fotonya dengan bapak di hadapannya, menggenggam jari mungil Lintang, tersenyum cerah memberinya seikat balon. &#xA;&#xA;Lintang memalingkan muka, &#34;di mana makam ibu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lintang tumbuh dengan baik, Bapak seneng, Nak. Nanti, bapak kasih alamat makam ibu.&#34; tangan bapak terulur. &#xA;&#xA;Lintang menjauhkannya, kali ini ia letakkan di atas lututnya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Bapak minta maaf, Lintang. Dulu, Bapak tidak berpikir ibu akan tiada.&#34; &#xA;&#xA;Netra Lintang berkaca-kaca, &#34;kalo ngga kepikir ibu bakal ngga ada, kenapa bapak mukul ibu terus-terusan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Waktu itu, waktu itu... Bapak khilaf, Lintang. Bapak pengangguran yang punya banyak hutang. Bapak emosian dan petinju ulung yang bikin ibu Lintang meninggal. Maaf, Lintang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Di mana makam ibu?&#34; &#xA;&#xA;Bapak menyerahkan satu kertas yang berisikan alamat, ada dua. Masing-masing berisi jalan yang berbeda. &#xA;&#xA;&#34;Itu rumah dan makam ibu. Bapak masih punya 7 tahun di sel, Lintang. Bapak ngga minta Lintang maafin Bapak. Tapi boleh ya berharap Lintang mau hidup dengan baik.&#34; &#xA;&#xA;Lintang melipat kertas yang ia ambil. &#xA;&#xA;&#34;Bapak sama ibu cuma punya kamu, Lintang. Kami dulu dari panti asuhan ujung kota. Mungkin Lintang udah lupa. Nanti, kalau Lintang main ke makam, Bapak nitip salam ya, Nak. Dan, nenek yang ngasih nama Lintang sekarang udah engga ada.&#34;&#xA;&#xA;Lintang tidak membiarkan kelopaknya mengerjab. &#xA;&#xA;&#34;Bapak ngga bisa nebus waktu buat Lintang. Bapak minta ampunan Lintang. Dan Bapak mau bilang makasih udah kabur waktu itu, makasih bersedia ketemu bapak di sini. Lintang, Bapak bersyukur kamu hidup dengan baik. Semoga, di kehidupan lainnya, kamu bisa ketemu ibu dengan keluarga yang lebih baik ya, Lintang.&#34; &#xA;&#xA;Lintang beranjak, &#34;udah kelamaan, Lintang mau pulang.&#34; &#xA;&#xA;Bapak hanya mengangguk, &#34;makasih, Lintang.&#34; tak lupa menyalami dua lelaki yang membawa Lintang bertemu dengannya, &#34;terima kasih, saya titip Lintang. Saya tidak bisa membayar apapun, tapi saya pastikan untuk sama sekali tidak mengganggu Lintang.&#34; &#xA;&#xA;Silvery mengangguk, dan bertolak. Menyusul dua orang lain yang sudah keluar ruangan. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Cari makan yuk?&#34; Zura menepuk punggung Lintang, masih memeluknya, membiarkan isak mengisi pundak kirinya. &#xA;&#xA;&#34;Ke makam dulu boleh?&#34; &#xA;&#xA;Silvery mengelus rambut Lintang pelan, &#34;boleh. Yuk!&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;@coffielicious&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p>.</p>

<blockquote><p>cw // non baku conversation.</p>

<p>tw // some Lintang&#39;s past trauma. Abusive parent.</p></blockquote>

<hr/>

 

<p>“Ngapain?” Lintang sadar ia berada dalam mimpinya lagi. Kali ini, ada Renja menemani.</p>

<p>“Katanya minta ditemenin.”</p>

<p>Lintang yang masih berbaring, hanya memejam, “kemarin ke mana?” menutup mata dengan lengannya.</p>

<p>“Mau nyoba ngga muncul aja di mimpi Lintang.”</p>

<p>“Males banget. Kapan bangun?”</p>

<p>“Nanti.”</p>

<p>Kemudian hening.</p>

<p>“Nanti ya Lintang, kalo semuanya udah selesai.”</p>

<p>Lintang tidak menjawab, hanya bergeser pelan, meletakkan kepalanya di atas paha Renja, “minta puk-puk, biasanya aku langsung bobo.”</p>

<p>“Aku?”</p>

<p>Lintang mendongak, “ngga boleh?”</p>

<p>Renja tersenyum tipis, “boleh. Buat latihan ya.”</p>

<p>“Apa-apaan.”</p>

<p>Renja mengelus pelan sisi kepala Lintang, meletakkannya dengan halus di pangkuannya, “mau cerita ngga harinya Lintang gimana?”</p>

<p>“Harus?” menyamankan diri, membiarkan hidungnya mengusak perut Renja.</p>

<p>“Geli, Lintang. Ngga harus kok, kalo ngga mau, ngga perlu cerita,” membelai rambut Lintang agar kembali tidur.</p>

<p>“Ketemu Renja kan tadi, abis itu nongkrong bentar di café nya kak Jingga, malemnya makan sama keluarga Lazuardi.”</p>

<p>Renja berdehem, “besok?”</p>

<p>Lintang menahan napas, “ketemu bapak.”</p>

<p>Renja menunduk, “boleh cium kepala Lintang ngga?”</p>

<p>“HAH?”</p>

<p>dan dahi mereka bertemu.</p>

<p>“Ouch!” bersamaan, memegang ujung pelipis masing-masing.</p>

<p>“Boleh, tapi puk-puk lagi.” Lintang kembali meletakkan kepalanya, kali ini netranya lurus menatap Renja.</p>

<p>Renja merendahkan badan atasnya, kemudian membiarkan bibirnya menyapa dahi milik lelaki yang lainnya, “tidur nyenyak, Lintang.”</p>

<p>Dan ia menghilang, seiring Lintang kembali memasuki istirahatnya hari ini.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Ketukan di pintu kamar membuatnya terbangun. Sudah pagi, dan Lintang masih terlentang di ujung ranjang.</p>

<p>“Udah bangun, Kak Zua.” menjawab Zura yang masih di depan pintu.</p>

<p>“Oke, Kakak tunggu di bawah ya, Ganteng.”</p>

<p>“Oke, Kak.” seraya beranjak gontai untuk membersihkan diri.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Perjalanan kali ini, disopiri oleh Silvery, di samping kursi kemudi ada Zura menemani. Lintang, masih anteng di bagian tengah mobil. Memainkan ponsel untuk sekadar mengabari Antares dan Jeya.</p>

<p>“Tidur aja lagi kalo masih ngantuk, Nja.” itu Azure.</p>

<p>“Gantian tidurnya sama Kak Zua?”</p>

<p>“Iya, pulangnya biar Kakak yang tidur.”</p>

<p>“Yeeee.” mencebik, “Enja ngga ngantuk, Kak.”</p>

<p>Lintang kembali memainkan handphone, sembari mendengarkan tipis-tipis obrolan kedua kakaknya.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Masih lengang.</p>

<p>Lintang melamun, ia merasa kosong.</p>

<p>“Kalau belum mau ketemu, tunggu di mobil dulu aja ngga papa, Nja.” Zura menggenggam tangannya.</p>

<p>Lintang membalas gandengan mereka, “jangan tinggalin Nja, Kak.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Lintang menatap lurus pada laki-laki paruh baya di seberang duduknya yang terhalang meja. Wajahnya mulai memiliki keriput, kelopak matanya yang sayu, dan bibir yang pucat.</p>

<p>“Maaf.” satu kata yang sedari tadi terulang.</p>

<p>Lintang menunduk, memainkan kaitan jemarinya sendiri.</p>

<p>“Maafkan Bapak, Lintang.”</p>

<p>Lintang setengah tidak percaya, namun satu foto masa kecil yang sudah lusuh memberikan satu rasa yang ia tidak pernah tahu, ada.</p>

<p>Fotonya dengan bapak di hadapannya, menggenggam jari mungil Lintang, tersenyum cerah memberinya seikat balon.</p>

<p>Lintang memalingkan muka, “di mana makam ibu?”</p>

<p>“Lintang tumbuh dengan baik, Bapak seneng, Nak. Nanti, bapak kasih alamat makam ibu.” tangan bapak terulur.</p>

<p>Lintang menjauhkannya, kali ini ia letakkan di atas lututnya sendiri.</p>

<p>“Bapak minta maaf, Lintang. Dulu, Bapak tidak berpikir ibu akan tiada.”</p>

<p>Netra Lintang berkaca-kaca, “kalo ngga kepikir ibu bakal ngga ada, kenapa bapak mukul ibu terus-terusan?”</p>

<p>“Waktu itu, waktu itu... Bapak khilaf, Lintang. Bapak pengangguran yang punya banyak hutang. Bapak emosian dan petinju ulung yang bikin ibu Lintang meninggal. Maaf, Lintang.”</p>

<p>“Di mana makam ibu?”</p>

<p>Bapak menyerahkan satu kertas yang berisikan alamat, ada dua. Masing-masing berisi jalan yang berbeda.</p>

<p>“Itu rumah dan makam ibu. Bapak masih punya 7 tahun di sel, Lintang. Bapak ngga minta Lintang maafin Bapak. Tapi boleh ya berharap Lintang mau hidup dengan baik.”</p>

<p>Lintang melipat kertas yang ia ambil.</p>

<p>“Bapak sama ibu cuma punya kamu, Lintang. Kami dulu dari panti asuhan ujung kota. Mungkin Lintang udah lupa. Nanti, kalau Lintang main ke makam, Bapak nitip salam ya, Nak. Dan, nenek yang ngasih nama Lintang sekarang udah engga ada.”</p>

<p>Lintang tidak membiarkan kelopaknya mengerjab.</p>

<p>“Bapak ngga bisa nebus waktu buat Lintang. Bapak minta ampunan Lintang. Dan Bapak mau bilang makasih udah kabur waktu itu, makasih bersedia ketemu bapak di sini. Lintang, Bapak bersyukur kamu hidup dengan baik. Semoga, di kehidupan lainnya, kamu bisa ketemu ibu dengan keluarga yang lebih baik ya, Lintang.”</p>

<p>Lintang beranjak, “udah kelamaan, Lintang mau pulang.”</p>

<p>Bapak hanya mengangguk, “makasih, Lintang.” tak lupa menyalami dua lelaki yang membawa Lintang bertemu dengannya, “terima kasih, saya titip Lintang. Saya tidak bisa membayar apapun, tapi saya pastikan untuk sama sekali tidak mengganggu Lintang.”</p>

<p>Silvery mengangguk, dan bertolak. Menyusul dua orang lain yang sudah keluar ruangan.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Cari makan yuk?” Zura menepuk punggung Lintang, masih memeluknya, membiarkan isak mengisi pundak kirinya.</p>

<p>“Ke makam dulu boleh?”</p>

<p>Silvery mengelus rambut Lintang pelan, “boleh. Yuk!”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-1tc7</guid>
      <pubDate>Sat, 16 Apr 2022 23:44:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chamber 5 </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-q17l?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Persimpangan&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Part of Chamber 5 AU.&#xA;&#xA;Lee Heeseung as Laranja Hanggara &#xA;&#xA;  Laranja&#39;s point of view&#xA;&#xA;--- !--more--&#xA;&#xA;Tidak ada apapun, hanya abu-abu. &#xA;&#xA;Renja berdiri begitu lama, ia tengok kanan kiri hanya menemukan kabut tebal menyelimutinya. Jarak pandangnya pendek, ia tak berani melangkah. &#xA;&#xA;Ia bingung bangun dalam keadaan seperti ini. Seingatnya ia mengendarai motor dan menghindari anak kecil menyebrang, membuatnya terpental jauh, kepalanya terantuk entah apa, yang membuatnya tak sadarkan diri. &#xA;&#xA;Ia raba sisi kepalanya, tidak ada. Tidak ada luka sobek dan tetesan darah. &#xA;&#xA;Ia amati tubuhnya sendiri, semuanya, masih sempurna. &#xA;&#xA;Ia bolak-balikkan tangannya, tidak ada goresan ranting, tidak ada kemerahan, hanya pucat. &#xA;&#xA;Netranya refleks memejam ketika ada setitik cahaya tepat di depannya. Yang kemudian menyebar, menyinari sekitarnya. &#xA;&#xA;Ia berada di persimpangan jalan. &#xA;&#xA;Jembatan dan jalan lurus yang Renja kira, tak berujung. &#xA;&#xA;Di tempatnya berdiri, Renja mengedarkan pandangan. Mengamati apapun yang mampu ia titik beratkan di maniknya. &#xA;&#xA;Tertambat pada jembatan, yang di bawahnya terdapat sungai jernih, airnya beralur pada air terjun tak jauh dari mengalirnya. &#xA;&#xA;Jembatan itu luas, mungkin 4 truk bisa berjalan bersisian di sana. Sisi jembatan itu dibatasi dengan tembok setinggi pundaknya, yang di sana juga terdapat mural dinding, bagus dan rapi. Menyentuh seni dengan mumpuni. &#xA;&#xA;Renja hampir melangkah, namun di sisi lain, ada jalan lurus, yang ini lebih sempit, mungkin hanya 2 mobil kecil yang bisa berpapasan. &#xA;&#xA;Jalan itu lembab, seperti tidak berujung, namun membuatnya menelisik rasa penasarannya. &#xA;&#xA;Renja memilih untuk tidak melangkah. Ia duduk, mengemper di persimpangan. &#xA;&#xA;Ada satu bunga liar kecil ia temukan. Ia ambil untuk kemudian ia gunakan untuk memilih. &#xA;&#xA;Bridge.&#xA;or&#xA;Straight Way.&#xA;&#xA;Dan kelopak terakhir memintanya menuju jembatan. &#xA;&#xA;Renja berdiri, menghela napasnya kemudian. Tak lupa ia tepuk-tepuk celana belakangnya, mengilangkan sedikit debu. &#xA;&#xA;Perlahan, tungkainya melangkah ringan menuju jembatan. &#xA;&#xA;&#34;It&#39;s my way?&#34; berbicara pada dirinya sendiri. Ada ragu, namun ia tepis. &#xA;&#xA;Satu jangkah dan ia hampir menapaki penghubung jalan. &#xA;&#xA;Namun tidak. &#xA;&#xA;Ia berbalik, pada satu ujung jalan yang tanpa muara. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;@coffielicious]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Persimpangan</em></strong></p>

<hr/>

<p>Part of Chamber 5 AU.</p>

<p>Lee Heeseung as Laranja Hanggara</p>

<blockquote><p>Laranja&#39;s point of view</p></blockquote>

<p>—– </p>

<p>Tidak ada apapun, hanya abu-abu.</p>

<p>Renja berdiri begitu lama, ia tengok kanan kiri hanya menemukan kabut tebal menyelimutinya. Jarak pandangnya pendek, ia tak berani melangkah.</p>

<p>Ia bingung bangun dalam keadaan seperti ini. Seingatnya ia mengendarai motor dan menghindari anak kecil menyebrang, membuatnya terpental jauh, kepalanya terantuk entah apa, yang membuatnya tak sadarkan diri.</p>

<p>Ia raba sisi kepalanya, tidak ada. Tidak ada luka sobek dan tetesan darah.</p>

<p>Ia amati tubuhnya sendiri, semuanya, masih sempurna.</p>

<p>Ia bolak-balikkan tangannya, tidak ada goresan ranting, tidak ada kemerahan, hanya pucat.</p>

<p>Netranya refleks memejam ketika ada setitik cahaya tepat di depannya. Yang kemudian menyebar, menyinari sekitarnya.</p>

<p>Ia berada di persimpangan jalan.</p>

<p>Jembatan dan jalan lurus yang Renja kira, tak berujung.</p>

<p>Di tempatnya berdiri, Renja mengedarkan pandangan. Mengamati apapun yang mampu ia titik beratkan di maniknya.</p>

<p>Tertambat pada jembatan, yang di bawahnya terdapat sungai jernih, airnya beralur pada air terjun tak jauh dari mengalirnya.</p>

<p>Jembatan itu luas, mungkin 4 truk bisa berjalan bersisian di sana. Sisi jembatan itu dibatasi dengan tembok setinggi pundaknya, yang di sana juga terdapat mural dinding, bagus dan rapi. Menyentuh seni dengan mumpuni.</p>

<p>Renja hampir melangkah, namun di sisi lain, ada jalan lurus, yang ini lebih sempit, mungkin hanya 2 mobil kecil yang bisa berpapasan.</p>

<p>Jalan itu lembab, seperti tidak berujung, namun membuatnya menelisik rasa penasarannya.</p>

<p>Renja memilih untuk tidak melangkah. Ia duduk, mengemper di persimpangan.</p>

<p>Ada satu bunga liar kecil ia temukan. Ia ambil untuk kemudian ia gunakan untuk memilih.</p>

<p><em>Bridge.
or
Straight Way</em>.</p>

<p>Dan kelopak terakhir memintanya menuju jembatan.</p>

<p>Renja berdiri, menghela napasnya kemudian. Tak lupa ia tepuk-tepuk celana belakangnya, mengilangkan sedikit debu.</p>

<p>Perlahan, tungkainya melangkah ringan menuju jembatan.</p>

<p>“<em>It&#39;s my way?</em>” berbicara pada dirinya sendiri. Ada ragu, namun ia tepis.</p>

<p>Satu jangkah dan ia hampir menapaki penghubung jalan.</p>

<p>Namun tidak.</p>

<p>Ia berbalik, pada satu ujung jalan yang tanpa muara.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-q17l</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Mar 2022 13:01:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chamber 5 </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-8rqg?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Day &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Part of Chamber 5 &#xA;&#xA;Sunghoon as Lintang Temurun Enjang &#xA;Heeseung as Laranja Hanggara &#xA;and Wonwoo as Silvery Hanggara&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Hampir pukul setengah sebelas. Masih ada sekitar 2 jam untuk Lintang bersiap-siap. &#xA;&#xA;Lintang sudah menyiapkan baju yang akan ia pakai ke Moon Café untuk bertemu dengan Silvery, pacar kakaknya. &#xA;&#xA;Ada segan tersendiri saat berhadapan dengan Silvery, entah apa, namun Lintang merasa canggung. &#xA;&#xA;Ia hela napas perlahan, kemudian ia merebah sebentar. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Cahaya kamarnya kini berganti menjadi remang. Ah, ia ada di mimpinya lagi. &#xA;&#xA;Lintang beranjak dari duduknya, tempat yang sama, seperti semalam ia bermimpi. &#xA;&#xA;Lorong rumah sakit, namun kali ini tidak ada Renja. &#xA;&#xA;Sepi, hanya bau obat menyeruak. &#xA;&#xA;Lintang melangkah pelan, ia tengok ke dalam bangsal yang berisi beberapa pasien. &#xA;&#xA;Lintang mengerjabkan netranya cepat ketika menangkap seseorang yang ia kenal. &#xA;&#xA;Silvery...? &#xA;&#xA;Tumben sekali ada orang yang Lintang kenal di mimpinya sendiri. &#xA;&#xA;Ia berjalan menghampirinya perlahan. &#xA;&#xA;&#34;Enja, sini!&#34; undang Silvery. &#xA;&#xA;Lintang menengok kanan dan kiri, tidak ada siapapun kecuali dirinya. &#xA;&#xA;&#34;Saya, Kak?&#34; &#xA;&#xA;Silvery mengangguk, mengambil tangan Lintang untuk digenggam. &#xA;&#xA;&#34;Renja udah ngga papa, ngga usah khawatir.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm...?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jadi beli makan tadi? Kalo ngga kakakmu bawa bekal. Sana makan dulu.&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengangguk, &#34;iya, Kak...&#34; &#xA;&#xA;Dan ketika berbelok, Lintang sudah berada di kamarnya lagi. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Apa tadi...?&#34; &#xA;&#xA;Ada beberapa lama untuknya sadar. Satu jam sudah ia tertidur. &#xA;&#xA;Lintang akhirnya bangkit dari rebahnya, membersihkan diri dan bersiap. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Bel pintu café berdenting ketika ia memasuki ruangan dengan nuansa terang dilengkapi lampu kemuning hangat. &#xA;&#xA;&#34;Lintang! Di sini!&#34; Jingga memintanya mendekat. &#xA;&#xA;&#34;Hai, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Silvery sama Azure udah di halaman belakang tuh, sana susul. Oh! Sama Lintang mau minum apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Latte aja, Kak. Lintang susul dulu ya, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oke, Lintang.&#34; &#xA;&#xA;Lintang berjalan menjauh, menuju halaman belakang café yang sejuk dengan beberapa pohon kecil. Menemukan Silvery dan Azura di salah satu meja kayu. &#xA;&#xA;&#34;Dari tadi, Kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lumayan Enja... Nah, karena Enja udah dateng, Kakak mau jemput Nila dulu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tapi Enja udah bilang Nila kalo Enja mau jemput, Kak...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu ngobrol sama Ilve dulu gih.&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengangguk, membiarkan Azure berjalan keluar café. &#xA;&#xA;&#34;Hai, Enja.&#34; &#xA;&#xA;Lintang tersenyum, &#34;halo, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah pesen kan tadi sama Jingga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah, Kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Enja... Jangan takut gitu, Kakak lho ngga gigit.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hehe... Iya, Kak Silvery.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jadi gimana Enja udah siap mai cerita mimpi-mimpinya Enja?&#34; &#xA;&#xA;Lintang menghela napas pelan, mengambil satu kap air mineral kemudian meminumnya, &#34;Kak Silvery udah denger dari bunda gimana aja?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Garis besarnya aja sih, Enja. Tentang mimpi yang didatengin satu orang yang sama dan berulang kali.&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengangguk, &#34;tadi ada yang dateng satu orang lagi kak, bedanya kalo ini Enja kenal.&#34; &#xA;&#xA;Silvery dengan sabar menunggu Lintang melanjutkan. &#xA;&#xA;&#34;Tadi, Kak Silvery ada di mimpi Enja. Di lorong rumah sakit.&#34; &#xA;&#xA;Silvery mengerutkan kening, &#34;Enja udah dapet informasi apa aja dari mimpi Enja?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Namanya Renja...&#34; pandangan mata Lintang kosong, &#34;ada pendakian, jelly strawberry, tangga jalan, greenhouse, piano, white roses, dan lorong rumah sakit. Itu sejauh ini.&#34; &#xA;&#xA;Silvery mengambil jaketnya tergesa, &#34;ikut Kakak bentar, nanti kita balik lagi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; &#xA;&#xA;Lintang menyambar tas kecilnya tergesa, menyusul langkah Silvery menuju pintu keluar. &#xA;&#xA;&#34;Sill!!! Mau kemane looo?&#34; Jingga meneriakinya. &#xA;&#xA;&#34;Menentukan hidup adek gue, ntar gue balik ke sini lagi.&#34; jawabnya cepat. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Kita mau ke mana, Kak?&#34; Lintang meremat sabuk pengamannya. &#xA;&#xA;&#34;Rumah sakit, Enja. Nanti Enja tahu. Tunggu sebentar ya.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lima belas menit perjalanan dan terasa begitu lama. &#xA;&#xA;Sol sepatu yang bertemu dengan lantai lorong seakan mendengung di telinga Lintang. Ia ragu, berhenti untuk duduk di salah satu bangku. &#xA;&#xA;&#34;Kak... Siapa Renja?&#34; &#xA;&#xA;Dan Silvery berbalik, berlutut di depan Lintang, &#34;semoga kakak salah ya, Enja.&#34; Silvery menggenggam tangannya lembut. &#xA;&#xA;&#34;Mau lanjut ikut? Atau Enja mau pulang?&#34; &#xA;&#xA;Penasarannya mengalahkan ketakutannya, &#34;ikut, Kak. Jangan tinggalin Enja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Never.&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang menelusupkan jemarinya erat. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ruang Cendana nomor 5. &#xA;&#xA;Seseorang berbaring di ranjangnya. Memakai piyama rumah sakit, dan banyak selang untuk penopang hidupnya. &#xA;&#xA;&#34;Renja, Laranja Hanggara. Adik gue...&#34; Silvery berkata perlahan, &#34;dia punya greenhouse yang di dalemnya ada piano. Kadang dia juga suka bikin jelly strawberry. Dia kecelakaan setelah mendaki dua tahun lalu, dia menghindar dari anak kecil yang nyebrang. Dan dia selalu punya white roses di vas bunganya dia. Enja... Ini kenapa Kakak ajak Enja ke sini.&#34; &#xA;&#xA;Lintang terpaku di tempatnya berdiri. &#xA;&#xA;&#34;Apa ini Renja yang ada di mimpinya Enja?&#34; &#xA;&#xA;Lintang melepaskan jari Silvery dari genggamannya, mendekat perlahan, dan tanpa sadar ia menangis, &#34;hai... Renja. Gue nemuin lo duluan...&#34;&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Ada banyak lamunan Lintang di sepanjang jalannya kembali ke Moon Café. Silvery harus menepuknya beberapa kali. &#xA;&#xA;&#34;Kapan Renja bangun, Kak?&#34; rematannya berganti pada ujung bajunya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Doain secepatnya ya, Enja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Enja boleh nengokin Renja?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Anytime, tapi minta temenin Nila atau Zura ya, Enja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Renja bilang, he used to stargazing everytime he can, he used to meet his brother and mother often, but not now, dia selalu bilang tentang dulu...&#34; Lintang menatap kosong lalu lalang jauh di depannya, &#34;Renja bakal bangun kan, Kak?&#34;&#xA;&#xA;Dan Lintang belum mendapat jawaban. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;ps. akhirnya hilal hiseng sudah terlihat...&#xA;&#xA;@coffielicious]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Day</strong></p>

<hr/>

<p>Part of Chamber 5</p>

<p>Sunghoon as Lintang Temurun Enjang
Heeseung as Laranja Hanggara
and Wonwoo as Silvery Hanggara</p>

<hr/>



<p>Hampir pukul setengah sebelas. Masih ada sekitar 2 jam untuk Lintang bersiap-siap.</p>

<p>Lintang sudah menyiapkan baju yang akan ia pakai ke Moon Café untuk bertemu dengan Silvery, pacar kakaknya.</p>

<p>Ada segan tersendiri saat berhadapan dengan Silvery, entah apa, namun Lintang merasa canggung.</p>

<p>Ia hela napas perlahan, kemudian ia merebah sebentar.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Cahaya kamarnya kini berganti menjadi remang. Ah, ia ada di mimpinya lagi.</p>

<p>Lintang beranjak dari duduknya, tempat yang sama, seperti semalam ia bermimpi.</p>

<p>Lorong rumah sakit, namun kali ini tidak ada Renja.</p>

<p>Sepi, hanya bau obat menyeruak.</p>

<p>Lintang melangkah pelan, ia tengok ke dalam bangsal yang berisi beberapa pasien.</p>

<p>Lintang mengerjabkan netranya cepat ketika menangkap seseorang yang ia kenal.</p>

<p>Silvery...?</p>

<p>Tumben sekali ada orang yang Lintang kenal di mimpinya sendiri.</p>

<p>Ia berjalan menghampirinya perlahan.</p>

<p>“Enja, sini!” undang Silvery.</p>

<p>Lintang menengok kanan dan kiri, tidak ada siapapun kecuali dirinya.</p>

<p>“Saya, Kak?”</p>

<p>Silvery mengangguk, mengambil tangan Lintang untuk digenggam.</p>

<p>“Renja udah ngga papa, ngga usah khawatir.”</p>

<p>“Hm...?”</p>

<p>“Jadi beli makan tadi? Kalo ngga kakakmu bawa bekal. Sana makan dulu.”</p>

<p>Lintang mengangguk, “iya, Kak...”</p>

<p>Dan ketika berbelok, Lintang sudah berada di kamarnya lagi.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Apa tadi...?”</p>

<p>Ada beberapa lama untuknya sadar. Satu jam sudah ia tertidur.</p>

<p>Lintang akhirnya bangkit dari rebahnya, membersihkan diri dan bersiap.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Bel pintu café berdenting ketika ia memasuki ruangan dengan nuansa terang dilengkapi lampu kemuning hangat.</p>

<p>“Lintang! Di sini!” Jingga memintanya mendekat.</p>

<p>“Hai, Kak.”</p>

<p>“Silvery sama Azure udah di halaman belakang tuh, sana susul. Oh! Sama Lintang mau minum apa?”</p>

<p>“Latte aja, Kak. Lintang susul dulu ya, Kak.”</p>

<p>“Oke, Lintang.”</p>

<p>Lintang berjalan menjauh, menuju halaman belakang café yang sejuk dengan beberapa pohon kecil. Menemukan Silvery dan Azura di salah satu meja kayu.</p>

<p>“Dari tadi, Kak?”</p>

<p>“Lumayan Enja... Nah, karena Enja udah dateng, Kakak mau jemput Nila dulu.”</p>

<p>“Tapi Enja udah bilang Nila kalo Enja mau jemput, Kak...”</p>

<p>“Kamu ngobrol sama Ilve dulu gih.”</p>

<p>Lintang mengangguk, membiarkan Azure berjalan keluar café.</p>

<p>“Hai, Enja.”</p>

<p>Lintang tersenyum, “halo, Kak.”</p>

<p>“Udah pesen kan tadi sama Jingga?”</p>

<p>“Udah, Kak.”</p>

<p>“Enja... Jangan takut gitu, Kakak lho ngga gigit.”</p>

<p>“Hehe... Iya, Kak Silvery.”</p>

<p>“Jadi gimana Enja udah siap mai cerita mimpi-mimpinya Enja?”</p>

<p>Lintang menghela napas pelan, mengambil satu kap air mineral kemudian meminumnya, “Kak Silvery udah denger dari bunda gimana aja?”</p>

<p>“Garis besarnya aja sih, Enja. Tentang mimpi yang didatengin satu orang yang sama dan berulang kali.”</p>

<p>Lintang mengangguk, “tadi ada yang dateng satu orang lagi kak, bedanya kalo ini Enja kenal.”</p>

<p>Silvery dengan sabar menunggu Lintang melanjutkan.</p>

<p>“Tadi, Kak Silvery ada di mimpi Enja. Di lorong rumah sakit.”</p>

<p>Silvery mengerutkan kening, “Enja udah dapet informasi apa aja dari mimpi Enja?”</p>

<p>“Namanya Renja...” pandangan mata Lintang kosong, “ada pendakian, <em>jelly strawberry</em>, tangga jalan, <em>greenhouse</em>, piano, <em>white roses</em>, dan lorong rumah sakit. Itu sejauh ini.”</p>

<p>Silvery mengambil jaketnya tergesa, “ikut Kakak bentar, nanti kita balik lagi.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>Lintang menyambar tas kecilnya tergesa, menyusul langkah Silvery menuju pintu keluar.</p>

<p>“Sill!!! Mau kemane looo?” Jingga meneriakinya.</p>

<p>“Menentukan hidup adek gue, ntar gue balik ke sini lagi.” jawabnya cepat.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Kita mau ke mana, Kak?” Lintang meremat sabuk pengamannya.</p>

<p>“Rumah sakit, Enja. Nanti Enja tahu. Tunggu sebentar ya.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Lima belas menit perjalanan dan terasa begitu lama.</p>

<p>Sol sepatu yang bertemu dengan lantai lorong seakan mendengung di telinga Lintang. Ia ragu, berhenti untuk duduk di salah satu bangku.</p>

<p>“Kak... Siapa Renja?”</p>

<p>Dan Silvery berbalik, berlutut di depan Lintang, “semoga kakak salah ya, Enja.” Silvery menggenggam tangannya lembut.</p>

<p>“Mau lanjut ikut? Atau Enja mau pulang?”</p>

<p>Penasarannya mengalahkan ketakutannya, “ikut, Kak. Jangan tinggalin Enja.”</p>

<p>“<em>Never</em>.”</p>

<p>Dan Lintang menelusupkan jemarinya erat.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Ruang Cendana nomor 5.</p>

<p>Seseorang berbaring di ranjangnya. Memakai piyama rumah sakit, dan banyak selang untuk penopang hidupnya.</p>

<p>“Renja, Laranja Hanggara. Adik gue...” Silvery berkata perlahan, “dia punya <em>greenhouse</em> yang di dalemnya ada piano. Kadang dia juga suka bikin <em>jelly strawberry</em>. Dia kecelakaan setelah mendaki dua tahun lalu, dia menghindar dari anak kecil yang nyebrang. Dan dia selalu punya <em>white roses</em> di vas bunganya dia. Enja... Ini kenapa Kakak ajak Enja ke sini.”</p>

<p>Lintang terpaku di tempatnya berdiri.</p>

<p>“Apa ini Renja yang ada di mimpinya Enja?”</p>

<p>Lintang melepaskan jari Silvery dari genggamannya, mendekat perlahan, dan tanpa sadar ia menangis, “hai... Renja. Gue nemuin lo duluan...”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Ada banyak lamunan Lintang di sepanjang jalannya kembali ke Moon Café. Silvery harus menepuknya beberapa kali.</p>

<p>“Kapan Renja bangun, Kak?” rematannya berganti pada ujung bajunya sendiri.</p>

<p>“Doain secepatnya ya, Enja.”</p>

<p>“Enja boleh nengokin Renja?”</p>

<p>“<em>Anytime</em>, tapi minta temenin Nila atau Zura ya, Enja.”</p>

<p>“Renja bilang, <em>he used to stargazing everytime he can, he used to meet his brother and mother often, but not now</em>, dia selalu bilang tentang dulu...” Lintang menatap kosong lalu lalang jauh di depannya, “Renja bakal bangun kan, Kak?”</p>

<p>Dan Lintang belum mendapat jawaban.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>ps. akhirnya hilal hiseng sudah terlihat...</p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-8rqg</guid>
      <pubDate>Fri, 11 Mar 2022 03:42:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chamber 5 </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-nl4r?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Our First Conversation&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Part of Chamber 5 &#xA;&#xA;Sunghoon as Lintang Temurun Enjang &#xA;Heeseung as Laranja Hanggara &#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Netranya mengerjab perlahan, menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. &#xA;&#xA;Seingatnya, ia sedang menyusun beberapa puzzle yang ada di kamar inapnya. &#xA;&#xA;Namun kini semuanya berbeda. &#xA;&#xA;Ia seperti ada di greenhouse lengkap dengan seluruh tanaman dalam pandangnya. Lintang menghela napas, sadar bahwa ia kembali di dalam mimpinya sendiri. &#xA;&#xA;Ia memilih pasrah. Berjalan pelan dari tempatnya berdiri. &#xA;&#xA;Proyeksi maniknya, hijau. Dedaunan yang bergerak halus seiring angin meliukkan dan bunga-bunga yang mengintip kecil di sela-selanya. &#xA;&#xA;&#34;Hai.&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang terlonjak. &#xA;&#xA;Ia diam, terpaku. &#xA;&#xA;Ada seseorang. Lelaki. Memakai kaus hitam pas badan, tersenyum teduh. &#xA;&#xA;&#34;Hai,&#34; ulangnya lebih lembut. &#xA;&#xA;&#34;Kau berbicara padaku?&#34; tunjuk Lintang pada dirinya sendiri. &#xA;&#xA;&#34;Yea, no one&#39;s here, except us.&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang semakin mengerjab. &#xA;&#xA;&#34;Bingung ya?&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;Ada meja kecil dan kursi di luar greenhouse ini, mau mengobrol?&#34; &#xA;&#xA;Lintang kembali mengangguk, mengikuti langkah lelaki yang kini bisa dengan jelas ia lihat rupa-nya. &#xA;&#xA;Maniknya yang teduh, dihiasi alis tebal menaungi, hidungnya yang terpatri apik, bibirnya yang akan tertarik berlawanan arah, memperlihatkan gigi yang berbaris rapi, disempurnakan dengan garis rahang yang begitu tegas. Tampan sekali. &#xA;&#xA;Lintang mengedikkan bahu, menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya sendiri. &#xA;&#xA;Jalan kecil yang ia tapaki semakin meluas menuju pintu keluar greenhouse. &#xA;&#xA;Ada pondok mungil di samping kanan dan kolam ikan di bagian kiri. &#xA;&#xA;Tungkai mereka berjalan searah, menuju meja kayu, kursi yang senada, dilengkapi dengan naungan payung lebar berwarna abu. &#xA;&#xA;Lintang mendudukkan diri, ia hela napas untuk kemudian menatap yang lain. Yang kini duduk di seberangnya. &#xA;&#xA;&#34;Mau mulai dari mana?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apanya?&#34; Lintang tak henti mengerutkan kening. &#xA;&#xA;&#34;Tentang mimpi. Sadar kan ini mimpi?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya. Kenapa kita bisa di sini?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki di hadapannya mengedik, &#34;entah, namun ini seperti kotak memoriku dulu. Ingat mimpi pertamamu tentangku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mendaki?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya, dulu aku pernah mendaki, di tempat yang sama di mimpi kita yang pertama. Bedanya, saat itu aku bersama teman-temanku,  dan kemarin, di kotak memoriku aku bersamamu. Maaf membuat sikumu terluka.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tidak. Terima kasih menolongku.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kau tau tidak akan meninggal di dalam mimpi kan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku pesimis tentang itu.&#34; &#xA;&#xA;Dan lelaki itu terkekeh, membuat Lintang sejenak terpesona. &#xA;&#xA;&#34;Kau lucu.&#34; masih dengan tawa kecilnya yang membuat Lintang menahan napas.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, aku minta maaf membuatmu lelah mendaki.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sudah seharusnya!&#34; &#xA;&#xA;Dan kini benar-benar tertawa, &#34;lihat, lucu sekali!&#34; tangannya terulur mendekati Lintang, menyerahkan satu strip plester luka. &#xA;&#xA;&#34;Untuk apa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tidak ada, hanya ingin memberimu plester. Pengingat, mungkin...?&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang mengambilnya. &#xA;&#xA;&#34;Mimpi yang kedua, ingat tidak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aku tertidur di kebun strawberry dan aku mendapat jelly.&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengangguk, &#34;you like it? The jelly.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kau benar-benar memberiku jelly?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm... Why?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Aneh saja. Kenapa juga aku harus tertidur di kebun strawberry?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Karena saat itu aku sedang tidur siang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Jadi setiap aku ketiduran karena kau tidur?!?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Tidak juga.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lalu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Di mimpi yang semalam, aku yang ketiduran. Mungkin saat itu kau lelah? Jadi bergantian.&#34; &#xA;&#xA;Lintang terdiam beberapa saat. &#xA;&#xA;&#34;Aku juga tidak memiliki clue tentang apa yang terjadi, tetapi yang aku tahu, mungkin memang kita ditakdirkan bertemu lewat mimpi.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau mencari tahu sama-sama?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengangguk, &#34;ya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Anyway, aku boleh tahu namamu? Atau tidak?&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengangguk, mengulurkan tangan, &#34;Renja, kau bisa memanggilku Renja.&#34; &#xA;&#xA;Lintang tersenyum, &#34;nama kita hampir sama, tapi kau bisa memanggilku Lintang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Well, mungkin salah satu kata namamu, ya? Baiklah, Lintang, nice to meet you.&#34; &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Dan lingkupan aroma cendana menghilang dari indra penciumannya. Berganti dengan pewangi ruangan yang tadi ia pasang di kamar inapnya. &#xA;&#xA;Lintang membenahi selimut, kemudian memejamkan mata, &#34;nice to meet you too, Renja.&#34; jemarinya bermain dengan satu strip plester luka, membiarkan membawanya kembali dalam tidurnya yang kini tanpa bunga.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;@coffielicious&#xA; ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Our First Conversation</strong></p>

<hr/>

<p>Part of Chamber 5</p>

<p>Sunghoon as Lintang Temurun Enjang
Heeseung as Laranja Hanggara</p>

<hr/>



<p>Netranya mengerjab perlahan, menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya.</p>

<p>Seingatnya, ia sedang menyusun beberapa <em>puzzle</em> yang ada di kamar inapnya.</p>

<p>Namun kini semuanya berbeda.</p>

<p>Ia seperti ada di <em>greenhouse</em> lengkap dengan seluruh tanaman dalam pandangnya. Lintang menghela napas, sadar bahwa ia kembali di dalam mimpinya sendiri.</p>

<p>Ia memilih pasrah. Berjalan pelan dari tempatnya berdiri.</p>

<p>Proyeksi maniknya, hijau. Dedaunan yang bergerak halus seiring angin meliukkan dan bunga-bunga yang mengintip kecil di sela-selanya.</p>

<p>“Hai.”</p>

<p>Dan Lintang terlonjak.</p>

<p>Ia diam, terpaku.</p>

<p>Ada seseorang. Lelaki. Memakai kaus hitam pas badan, tersenyum teduh.</p>

<p>“Hai,” ulangnya lebih lembut.</p>

<p>“Kau berbicara padaku?” tunjuk Lintang pada dirinya sendiri.</p>

<p>“Yea, <em>no one&#39;s here, except us</em>.”</p>

<p>Dan Lintang semakin mengerjab.</p>

<p>“Bingung ya?”</p>

<p>Lintang mengangguk.</p>

<p>“Ada meja kecil dan kursi di luar <em>greenhouse</em> ini, mau mengobrol?”</p>

<p>Lintang kembali mengangguk, mengikuti langkah lelaki yang kini bisa dengan jelas ia lihat rupa-nya.</p>

<p>Maniknya yang teduh, dihiasi alis tebal menaungi, hidungnya yang terpatri apik, bibirnya yang akan tertarik berlawanan arah, memperlihatkan gigi yang berbaris rapi, disempurnakan dengan garis rahang yang begitu tegas. Tampan sekali.</p>

<p>Lintang mengedikkan bahu, menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya sendiri.</p>

<p>Jalan kecil yang ia tapaki semakin meluas menuju pintu keluar <em>greenhouse</em>.</p>

<p>Ada pondok mungil di samping kanan dan kolam ikan di bagian kiri.</p>

<p>Tungkai mereka berjalan searah, menuju meja kayu, kursi yang senada, dilengkapi dengan naungan payung lebar berwarna abu.</p>

<p>Lintang mendudukkan diri, ia hela napas untuk kemudian menatap yang lain. Yang kini duduk di seberangnya.</p>

<p>“Mau mulai dari mana?”</p>

<p>“Apanya?” Lintang tak henti mengerutkan kening.</p>

<p>“Tentang mimpi. Sadar kan ini mimpi?”</p>

<p>“Ya. Kenapa kita bisa di sini?”</p>

<p>Lelaki di hadapannya mengedik, “entah, namun ini seperti kotak memoriku dulu. Ingat mimpi pertamamu tentangku?”</p>

<p>“Mendaki?”</p>

<p>“Ya, dulu aku pernah mendaki, di tempat yang sama di mimpi kita yang pertama. Bedanya, saat itu aku bersama teman-temanku,  dan kemarin, di kotak memoriku aku bersamamu. Maaf membuat sikumu terluka.”</p>

<p>“Tidak. Terima kasih menolongku.”</p>

<p>“Kau tau tidak akan meninggal di dalam mimpi kan?”</p>

<p>“Aku pesimis tentang itu.”</p>

<p>Dan lelaki itu terkekeh, membuat Lintang sejenak terpesona.</p>

<p>“Kau lucu.” masih dengan tawa kecilnya yang membuat Lintang menahan napas.</p>

<p>“Aku tidak.”</p>

<p>“Kalau begitu, aku minta maaf membuatmu lelah mendaki.”</p>

<p>“Sudah seharusnya!”</p>

<p>Dan kini benar-benar tertawa, “lihat, lucu sekali!” tangannya terulur mendekati Lintang, menyerahkan satu strip plester luka.</p>

<p>“Untuk apa?”</p>

<p>“Tidak ada, hanya ingin memberimu plester. Pengingat, mungkin...?”</p>

<p>Dan Lintang mengambilnya.</p>

<p>“Mimpi yang kedua, ingat tidak?”</p>

<p>“Aku tertidur di kebun strawberry dan aku mendapat jelly.”</p>

<p>Lelaki itu mengangguk, “<em>you like it? The jelly</em>.”</p>

<p>“Kau benar-benar memberiku jelly?”</p>

<p>“Hm... <em>Why?</em>“</p>

<p>“Aneh saja. Kenapa juga aku harus tertidur di kebun strawberry?”</p>

<p>“Karena saat itu aku sedang tidur siang.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Jadi setiap aku ketiduran karena kau tidur?!?”</p>

<p>“Tidak juga.”</p>

<p>“Lalu?”</p>

<p>“Di mimpi yang semalam, aku yang ketiduran. Mungkin saat itu kau lelah? Jadi bergantian.”</p>

<p>Lintang terdiam beberapa saat.</p>

<p>“Aku juga tidak memiliki <em>clue</em> tentang apa yang terjadi, tetapi yang aku tahu, mungkin memang kita ditakdirkan bertemu lewat mimpi.”</p>

<p>“Mau mencari tahu sama-sama?”</p>

<p>Lelaki itu mengangguk, “ya.”</p>

<p>“<em>Anyway</em>, aku boleh tahu namamu? Atau tidak?”</p>

<p>Lelaki itu mengangguk, mengulurkan tangan, “Renja, kau bisa memanggilku Renja.”</p>

<p>Lintang tersenyum, “nama kita hampir sama, tapi kau bisa memanggilku Lintang.”</p>

<p>“<em>Well</em>, mungkin salah satu kata namamu, ya? Baiklah, Lintang, <em>nice to meet you</em>.”</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Dan lingkupan aroma cendana menghilang dari indra penciumannya. Berganti dengan pewangi ruangan yang tadi ia pasang di kamar inapnya.</p>

<p>Lintang membenahi selimut, kemudian memejamkan mata, “<em>nice to meet you too,</em> Renja.” jemarinya bermain dengan satu strip plester luka, membiarkan membawanya kembali dalam tidurnya yang kini tanpa bunga.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-nl4r</guid>
      <pubDate>Thu, 03 Mar 2022 13:31:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chamber 5 </title>
      <link>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-kwn1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[.&#xA;&#xA;Third Day&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sunghoon as Lintang Temurun Enjang &#xA;Jungwon as Neelae Lazuardi &#xA;Hoshi as Azure Lazuardi &#xA;Wonwoo as Silvery Hanggara &#xA;&#xA;And Bunda &#xA;&#xA;  Part of Chamber 5 AU &#xA;&#xA;Warning ; non baku conversation.&#xA;&#xA;TW // mention of blood, minor character death, trauma, sleeping pills, and kdrt &#xA;&#xA;Please do inform me if there are some tw left ;)&#xA;&#xA;---&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Netranya mengedar setelah mematikan ponsel dalam genggaman. Ia hirup perlahan oksigen yang tersedia di sekitar. &#xA;&#xA;Segar sekali. &#xA;&#xA;Dari tempat Lintang berdiri, ia mampu melihat 4 gunung di satu tempat. &#xA;&#xA;Hamparan warna hijau kebiruan menyatu dengan matahari yang kini sudah sepenggalah. Membiarkan tubuh depannya tersiram mentari pagi. &#xA;&#xA;Kemudian ia mendudukan diri, menunggu Neelae dan keluarganya untuk menghampirinya. &#xA;&#xA;Ada cerita menarik tentang bagaimana hubungan mereka terbentuk. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Lintang meningatnya samar-samar mungkin ia masih sekitar 7 tahun saat itu. Ia berlari menyangking sepatunya yang jebol, dilengkapi ujung jari jempolnya yang berdarah karena tersandung. &#xA;&#xA;Ia tak tahu arah, yang ia tahu, ia harus berlari sampai ia lelah. Sampai ia tak ditemukan. &#xA;&#xA;Kemudian ada seorang wanita paruh baya, menggandeng balita di genggamannya, &#34;astaga, ada apa, Nak?&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang akhirnya menangis. &#xA;&#xA;Wanita paruh baya itu membawanya pulang, memberinya makan, mengais informasi yang sekiranya bisa membantu Lintang kembali. &#xA;&#xA;Namun Lintang terus menggeleng, ia tak ingin menjawab apapun, kecuali namanya sendiri. &#xA;&#xA;Wanita paruh baya itu tidak menyerah, beliau membawa Lintang ke kantor polisi terdekat hanya untuk menyaksikan Lintang menangis keras. &#xA;&#xA;Wanita paruh baya itu, pada akhirnya tidak membiarkan Lintang pergi. &#xA;&#xA;Ia merawatnya bersama dua anaknya. Wanita itu kini memiliki tiga putra. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Setelah sekian tahun Lintang bersama keluarga Lazuardi. Sang ibunda tahu, bagaimana Lintang tersesat di jalanan berhari-hari. &#xA;&#xA;Ia adalah korban kekerasan keluarga yang menewaskan ibunya karena ulah suaminya. &#xA;&#xA;Lintang takut, saat ia kembali, ia akan dipukuli hingga berdarah dan tidak bernapas, seperti ibunya. &#xA;&#xA;Lintang kabur dari rumah ayahnya di malam hari, hanya seutas pakaian, satu jaket, dan sepatu lusuh untuknya bertahan selama beberapa hari. &#xA;&#xA;Kemudian ia menemukan sisa kue di pinggir toko milik keluarga Lazuardi. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;Itu adalah ingatan lamanya. Yang selanjutnya, Lintang memilih hidup sendiri setelah yakin ia mampu. &#xA;&#xA;Ia masih berhubungan baik dengan keluarga angkatnya. &#xA;&#xA;Keluarganya yang memanggilnya &#39;Enja&#39; dari nama belakangnya, &#39;Enjang&#39;. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;&#34;Kak Enjaaaaa!&#34; &#xA;&#xA;Teriakan di belakangnya membuatnya menoleh, itu Neelae. &#xA;&#xA;Lintang berdiri, menyambutnya dengan pelukan, mengusak surai Neelae yang melebat, &#34;kangen banget.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nila jugaaa! Kak Enja sih, jarang mainnn!!!&#34; rajuknya mengerucutkab bibir. &#xA;&#xA;&#34;Belum sempet, maaf ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dimaafin kalo setelah Kak Enja pulang dari sini, nginep di rumah.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Call!&#34; Lintang menyanggupinya, dan maniknya menemukan Kak Azure, &#34;Kak...&#34; &#xA;&#xA;Azure membawanya dalam dekap, dan melepasnya untuk mengusap kelopak miliknya, membuat Lintang memejam, &#34;cape banget kayanya.&#34; &#xA;&#xA;Lintang hanya tersenyum kecil, &#34;kangen Kak Zua.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dikira Kakak engga apa?&#34; Azure menepuk pelan pundaknya, &#34;Kakak mau ngenalin seseorang sekalian deh,&#34; Azure memanggil lelaki yang sedari tadi membawa jaket, sepertinya milik Azure, &#34;ini Silvery, pacar Kakak.&#34; &#xA;&#xA;Lintang menyalaminya, &#34;Lintang, tapi bisa juga dipanggil Enja, Kak.&#34; &#xA;&#xA;Lelaki itu mengangguk, &#34;Silvery, nice to meet you, Enja.&#34; &#xA;&#xA;Lintang tersenyum, &#34;udah bisa liat warna ya Kak, kata Nila?&#34; &#xA;&#xA;Azure melonjak sedikit, &#34;udah, Enja!!! Aku excited banget waktu pertama kali ngalamin, kaya astaga ternyata dunia seberwarna ini ya.&#34; &#xA;&#xA;Lintang menanggapi Azure yang masih mengoceh bagaimana bahagianya ia. &#xA;&#xA;&#34;Halo anak tengah Bunda.&#34; &#xA;&#xA;Dan Lintang berhambur ke dalam dekapan hangatnya, &#34;kangen Bunda.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ya kamu, jarang main. Padahal Bunda sering bikin tiramisu cake buat Enja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hehe, lain kali Enja mampir deh, Bunda. Lagi lumayan hectic soalnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Asal jangan lupa jaga kesehatan aja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, Bunda.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Buuuunnn, Adek mau ke sana sama Kak Zua yaaa?&#34; Nila mengambil satu minuman yang tersedia di meja. &#xA;&#xA;&#34;Iya, nanti kalau mau pulang bilang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Okeee Bundaaa, dadah Kak Enja.&#34; lambainya manis. &#xA;&#xA;Lintang mengangguk kecil. &#xA;&#xA;Hanya tinggal mereka berdua, bertukar kabar dan menanyakan beberapa hal.&#xA;&#xA;&#34;Jadi gimana? Coba Bunda mau denger dari Enja langsung tentang mimpi-mimpinya Enja.&#34; &#xA;&#xA;Lintang membenahi duduknya, ia hela napas perlahan, &#34;dari malem pertama waktu Enja dateng ke sini, Bunda. Enja yang biasanya tidur harus pake sleeping pills itu engga. Bahkan Enja ketiduran.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Wow.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dan Enja mulai mimpinya di malem pertama juga. Waktu itu Enja mendaki gunung, aneh banget. Padahal Enja kan sukanya di ice rink, bukan hiking.&#34; &#xA;&#xA;Bunda terkekeh kecil, &#34;hm, terus?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Di pendakian itu, Enja ditemenin sama satu cowo, Bunda. Tapi Enja sama sekali ngga bisa liat dia. Ini mimpinya sampe tiga babak, Enja kan cape.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Haha, lucu banget sih Enjaaa, terus-terus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus mimpi yang kedua, Enja ketiduran di kebun strawberry.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya Bunda, di mimpi itu Enja dikasih jelly, ngga lama, ada yang bangunin Enja, ngasih jelly, persis sama yang dikasih di mimpi Enja.&#34; Lintang menjedanya, meminum teh hangat yang kini mendingin, &#34;oh! Hampir lupa, di mimpi pertama, Enja nyaris jatuh di pendakian, siku Enja kegores ranting, di tolongin sama cowo itu. Dan waktu Enja bangun, udah ada plester di siku Enja.&#34; menunjukkan sikunya yang terluka. &#xA;&#xA;&#34;Aneh ya, Enja.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya Bunda... Dan semalem, Enja mimpi dia lagi. Nemenin dia main game, Enja dikasih snack abis itu dipuk-puk sampe bobo.&#34; &#xA;&#xA;Bunda terdiam agak lama, &#34;Enja dapet kamar nomor berapa?&#34; tanyanya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Lima, Bunda.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oohh yang lantai dua ya? Bunda tadi lewat sana dan semuanya oke.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Cuma emang kayanya jarang ada yang nempatin aja. Tapi Enja, apa Enja beli atau dapet sesuatu?&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengerutkan kening, kemudian teringat dengan gantungan kunci yang ia dapat, &#34;Enja pernah dapet ini, Bun...&#34; ia keluarkan gantungan kunci antik dari dalam sakunya. &#xA;&#xA;&#34;Chamber 5?&#34; Bunda mengamati keychain itu saksama, &#34;ada sesuatu yang dibilang sama orang yang ngasih ini?&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengingat-ingat, &#34;ada, Bunda. Intinya tentang mimpi sampe waktu yang sudah ditentukan...?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pulang sebentar yuk, Bunda mau liat kamar yang ditempatin Enja.&#34; &#xA;&#xA;Lintang mengangguk, membenahi barang-barangnya kemudian beranjak mengikuti Bunda. &#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;.&#xA;&#xA;@coffielicious&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>.</p>

<p><strong>Third Day</strong></p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<hr/>

<p>Sunghoon as Lintang Temurun Enjang
Jungwon as Neelae Lazuardi
Hoshi as Azure Lazuardi
Wonwoo as Silvery Hanggara</p>

<p>And Bunda</p>

<blockquote><p>Part of Chamber 5 AU</p></blockquote>

<p>Warning ; non baku conversation.</p>

<p>TW // <em>mention of blood, minor character death, trauma, sleeping pills, and kdrt</em></p>

<p>Please do inform me if there are some tw left ;)</p>

<hr/>



<p>Netranya mengedar setelah mematikan ponsel dalam genggaman. Ia hirup perlahan oksigen yang tersedia di sekitar.</p>

<p>Segar sekali.</p>

<p>Dari tempat Lintang berdiri, ia mampu melihat 4 gunung di satu tempat.</p>

<p>Hamparan warna hijau kebiruan menyatu dengan matahari yang kini sudah sepenggalah. Membiarkan tubuh depannya tersiram mentari pagi.</p>

<p>Kemudian ia mendudukan diri, menunggu Neelae dan keluarganya untuk menghampirinya.</p>

<p>Ada cerita menarik tentang bagaimana hubungan mereka terbentuk.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Lintang meningatnya samar-samar mungkin ia masih sekitar 7 tahun saat itu. Ia berlari menyangking sepatunya yang jebol, dilengkapi ujung jari jempolnya yang berdarah karena tersandung.</p>

<p>Ia tak tahu arah, yang ia tahu, ia harus berlari sampai ia lelah. Sampai ia tak ditemukan.</p>

<p>Kemudian ada seorang wanita paruh baya, menggandeng balita di genggamannya, “astaga, ada apa, Nak?”</p>

<p>Dan Lintang akhirnya menangis.</p>

<p>Wanita paruh baya itu membawanya pulang, memberinya makan, mengais informasi yang sekiranya bisa membantu Lintang kembali.</p>

<p>Namun Lintang terus menggeleng, ia tak ingin menjawab apapun, kecuali namanya sendiri.</p>

<p>Wanita paruh baya itu tidak menyerah, beliau membawa Lintang ke kantor polisi terdekat hanya untuk menyaksikan Lintang menangis keras.</p>

<p>Wanita paruh baya itu, pada akhirnya tidak membiarkan Lintang pergi.</p>

<p>Ia merawatnya bersama dua anaknya. Wanita itu kini memiliki tiga putra.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Setelah sekian tahun Lintang bersama keluarga Lazuardi. Sang ibunda tahu, bagaimana Lintang tersesat di jalanan berhari-hari.</p>

<p>Ia adalah korban kekerasan keluarga yang menewaskan ibunya karena ulah suaminya.</p>

<p>Lintang takut, saat ia kembali, ia akan dipukuli hingga berdarah dan tidak bernapas, seperti ibunya.</p>

<p>Lintang kabur dari rumah ayahnya di malam hari, hanya seutas pakaian, satu jaket, dan sepatu lusuh untuknya bertahan selama beberapa hari.</p>

<p>Kemudian ia menemukan sisa kue di pinggir toko milik keluarga Lazuardi.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>Itu adalah ingatan lamanya. Yang selanjutnya, Lintang memilih hidup sendiri setelah yakin ia mampu.</p>

<p>Ia masih berhubungan baik dengan keluarga angkatnya.</p>

<p>Keluarganya yang memanggilnya &#39;Enja&#39; dari nama belakangnya, &#39;Enjang&#39;.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>“Kak Enjaaaaa!”</p>

<p>Teriakan di belakangnya membuatnya menoleh, itu Neelae.</p>

<p>Lintang berdiri, menyambutnya dengan pelukan, mengusak surai Neelae yang melebat, “kangen banget.”</p>

<p>“Nila jugaaa! Kak Enja sih, jarang mainnn!!!” rajuknya mengerucutkab bibir.</p>

<p>“Belum sempet, maaf ya?”</p>

<p>“Dimaafin kalo setelah Kak Enja pulang dari sini, nginep di rumah.”</p>

<p>“Call!” Lintang menyanggupinya, dan maniknya menemukan Kak Azure, “Kak...”</p>

<p>Azure membawanya dalam dekap, dan melepasnya untuk mengusap kelopak miliknya, membuat Lintang memejam, “cape banget kayanya.”</p>

<p>Lintang hanya tersenyum kecil, “kangen Kak Zua.”</p>

<p>“Dikira Kakak engga apa?” Azure menepuk pelan pundaknya, “Kakak mau ngenalin seseorang sekalian deh,” Azure memanggil lelaki yang sedari tadi membawa jaket, sepertinya milik Azure, “ini Silvery, pacar Kakak.”</p>

<p>Lintang menyalaminya, “Lintang, tapi bisa juga dipanggil Enja, Kak.”</p>

<p>Lelaki itu mengangguk, “Silvery, <em>nice to meet you,</em> Enja.”</p>

<p>Lintang tersenyum, “udah bisa liat warna ya Kak, kata Nila?”</p>

<p>Azure melonjak sedikit, “udah, Enja!!! Aku <em>excited</em> banget waktu pertama kali ngalamin, kaya astaga ternyata dunia seberwarna ini ya.”</p>

<p>Lintang menanggapi Azure yang masih mengoceh bagaimana bahagianya ia.</p>

<p>“Halo anak tengah Bunda.”</p>

<p>Dan Lintang berhambur ke dalam dekapan hangatnya, “kangen Bunda.”</p>

<p>“Ya kamu, jarang main. Padahal Bunda sering bikin tiramisu cake buat Enja.”</p>

<p>“Hehe, lain kali Enja mampir deh, Bunda. Lagi lumayan <em>hectic</em> soalnya.”</p>

<p>“Asal jangan lupa jaga kesehatan aja.”</p>

<p>“Iya, Bunda.”</p>

<p>“Buuuunnn, Adek mau ke sana sama Kak Zua yaaa?” Nila mengambil satu minuman yang tersedia di meja.</p>

<p>“Iya, nanti kalau mau pulang bilang.”</p>

<p>“Okeee Bundaaa, dadah Kak Enja.” lambainya manis.</p>

<p>Lintang mengangguk kecil.</p>

<p>Hanya tinggal mereka berdua, bertukar kabar dan menanyakan beberapa hal.</p>

<p>“Jadi gimana? Coba Bunda mau denger dari Enja langsung tentang mimpi-mimpinya Enja.”</p>

<p>Lintang membenahi duduknya, ia hela napas perlahan, “dari malem pertama waktu Enja dateng ke sini, Bunda. Enja yang biasanya tidur harus pake <em>sleeping pills</em> itu engga. Bahkan Enja ketiduran.”</p>

<p>“Wow.”</p>

<p>“Dan Enja mulai mimpinya di malem pertama juga. Waktu itu Enja mendaki gunung, aneh banget. Padahal Enja kan sukanya di <em>ice rink</em>, bukan <em>hiking</em>.”</p>

<p>Bunda terkekeh kecil, “hm, terus?”</p>

<p>“Di pendakian itu, Enja ditemenin sama satu cowo, Bunda. Tapi Enja sama sekali ngga bisa liat dia. Ini mimpinya sampe tiga babak, Enja kan cape.”</p>

<p>“Haha, lucu banget sih Enjaaa, terus-terus?”</p>

<p>“Terus mimpi yang kedua, Enja ketiduran di kebun strawberry.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Iya Bunda, di mimpi itu Enja dikasih <em>jelly</em>, ngga lama, ada yang bangunin Enja, ngasih <em>jelly,</em> persis sama yang dikasih di mimpi Enja.” Lintang menjedanya, meminum teh hangat yang kini mendingin, “oh! Hampir lupa, di mimpi pertama, Enja nyaris jatuh di pendakian, siku Enja kegores ranting, di tolongin sama cowo itu. Dan waktu Enja bangun, udah ada plester di siku Enja.” menunjukkan sikunya yang terluka.</p>

<p>“Aneh ya, Enja.”</p>

<p>“Iya Bunda... Dan semalem, Enja mimpi dia lagi. Nemenin dia main game, Enja dikasih <em>snack</em> abis itu dipuk-puk sampe bobo.”</p>

<p>Bunda terdiam agak lama, “Enja dapet kamar nomor berapa?” tanyanya kemudian.</p>

<p>“Lima, Bunda.”</p>

<p>“Oohh yang lantai dua ya? Bunda tadi lewat sana dan semuanya oke.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Cuma emang kayanya jarang ada yang nempatin aja. Tapi Enja, apa Enja beli atau dapet sesuatu?”</p>

<p>Lintang mengerutkan kening, kemudian teringat dengan gantungan kunci yang ia dapat, “Enja pernah dapet ini, Bun...” ia keluarkan gantungan kunci antik dari dalam sakunya.</p>

<p>“<em>Chamber 5</em>?” Bunda mengamati <em>keychain</em> itu saksama, “ada sesuatu yang dibilang sama orang yang ngasih ini?”</p>

<p>Lintang mengingat-ingat, “ada, Bunda. Intinya tentang mimpi sampe waktu yang sudah ditentukan...?”</p>

<p>“Pulang sebentar yuk, Bunda mau liat kamar yang ditempatin Enja.”</p>

<p>Lintang mengangguk, membenahi barang-barangnya kemudian beranjak mengikuti Bunda.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>.</p>

<p>@coffielicious</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://coffielicious.writeas.com/chamber-5-kwn1</guid>
      <pubDate>Tue, 01 Mar 2022 11:06:34 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>