Hiccups ─
.
Seungzz Short AU
.
“Kak tau buk- huks- u aku ga, yang samp-huks- pul nya warna cokelat?”
Seungwoo menoleh pada Seungyoun yang berdiri di samping ranjangnya, “Itu cegukan udah diobatin?”
Seungyoun berdiri tegak, berkacak pinggang.
“Aku tanya di- huks – mana buku aku. Kok mal- huks- ah tanya cegukan.”
“Tadi kakak taro di meja kamu, tuh di samping laptop. Minum air putih anget gih.”
Seungwoo beranjak mengamhil gelas dan mengisinya dengan air putih hangat.
“Makasih ka- huks- kak.” Seungyoun mengambil bukunya dan meminum air yang dibawakan Seungwoo.
“Nanti kalau masih cegukan, minta dikagetin aja.”
“Ga – huks- mau. Aaahhhh kenapa ma – huks- sih cegukaann.”
Seungwoo tertawa terhibur. Lucu sekali Seungyoun ini.
“Udah yuk ah, berangkat sekolah dulu. Ntar berhenti itu cegukan.”
Mereka berjalan berdampingan untuk berangkat, letak sekolah mereka tidak jauh dari asrama tempat mereka tinggal. Sebagai roommate, mereka berusaha untuk beradaptasi bersama. Mencoba saling memahami satu dengan yang lain.
Ini bulan ke-5 mereka berbagi kamar. Karena setiap satu semester para siswa akan berganti teman sekamar.
“Nanti sore kamu ada futsal?” Seungwoo membuka bungkus permen kopi dan memberikannya pada Seungyoun.
“Ga ada – huks- kayanya.” Menerima permen yang sudah dikupas namun urung memakannya. Tangannya terulur ke samping, menyuapkannya pada Seungwoo yang mengangkat alis.
“Masih cegu – huks- kan.”
“Nanti coba handstand.”
“Bi- huks – sa?”
“Coba aja dulu.”
Seungwoo berlari meninggalkan Seungyoun.
“Kaaakkk!”
“Kejar, Youn!”
Seungyoun berlari menyusul Seungwoo, sesampai di tikungan kelas, “HAA!”
Seungyoun terlonjak kaget.
“Ka – huks- get, Kak!”
Seungyoun memukul dada Seungwoo kencang.
“Oww! Kok belum berhasil sih, kok masih cegukan?”
“Gak lu-huks- cu!!”
Seungyoun mencebik, kali ini ia yang meninggalkan Seungwoo. Ngambek.
“Jangan ngambek, kan Kakak berusaha biar cegukan kamu berhenti.”
“Ga dikaget – huks – in juga kali.”
“Udah sana masuk kelas, minum air putih jangan lupa.”
.
.
.
Istirahat ke-dua, para siswa berbondong menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang meronta.
Seungwoo membawa nampannya untuk mencari tempat duduk. Menemukan Seungyoun yang bercanda dengan Hangyul juga Yohan di ujung ruangan.
“Yo!” Sapanya setelah sampai di samping meja mereka. Tidak menemukan nampan piring di depan Seungyoun.
“Yo, Kak Seungwoo!” Hangyul mendongak. Meminum jus jeruknya satu teguk.
“Ga makan, Youn?”
Seungyoun menggeleng, meminum air dari botol besar di depannya. Isinya hampir habis.
Seungwoo mengernyitkan dahi, “Kamu minum sendiri, Youn?”
Mendudukkan diri di samping Seungyoun. Mengabaikan makanan yang dibawanya.
“Huum.” Angguknya.
“Ga laper?” Seungwoo menyesap kopinya.
“Masih cegu – huks – kan. Huweeeee.”
“Lha belum sembuh. Udah coba handstand?”
“Hahahaha.” Itu Yohan, “Jadi handstand sepanjang pelajaran tuh, karena kak Youn cegukan? Hahahaha.”
Hangyul menyenggolnya, “Yo.” Ia memperingatkan.
“Sorry, sorry. Hahaha, lagian kok ya bisa selama itu cegukannya, Kak Youn salah makan?”
Seungyoun menggeleng, memelas. Masih bergelut dengan cegukannya.
.
.
.
Seungwoo menunggu Seungyoun di depan kelasnya. Mengabaikan tatapan adik kelas yang memandanginya.
“Ada ap- huks – a, Kak?”
“Masih cegukan?”
Seungyoun mengangguk.
“Temenin latihan basket.”
“Hah?”
“Ga mau pulang sendirian, ntar Kakak masakin makan malam.”
Seungyoun berpikir agak lama, “Di lapang – huks- an indoor?”
“Iya.”
“Mau ke per- huks- pus dulu.”
“Oke.”
.
.
.
Seungyoun menunggu dan melihat permainan Seungwoo di tribun, di pangkuannya satu novel yang terkadang ia buka tutup. Menepuk dada nya beberapa kali untuk menghentikan cegukan. Baru kali ini ia cegukan begitu lama.
Seungwoo menghampirinya, mengambil botol minum yang Seungyoun sodorkan.
“Kamu bolak-balik kamar mandi ga tadi?”
“Iya, kenap- huks -pa?”
“Kamu minum banyak kan tadi. Dan masih cegukan.”
Seungyoun meletakkan novelnya, berjalan menjauh ke pojok dan memposisikan diri untuk handstand.
“Sana – huks – main lagi.”
Seungwoo menoleh pada teman-temannya yang sedang melepas lelah.
Ia menghampiri Seungyoun. Berjongkok di depannya. Kemudian mendelosor untuk tengkurap, mencoba mensejajarkan kepala mereka.
“Ngapain – huks –, Kak?”
Seungwoo diam, mengamatinya pelan.
“Mau nyembuhin cegukan kamu.”
“Gimana....?”
Dan- cup.
Satu kecupan mampir di bibir Seungyoun.
Seungyoun terpaku, netranya masih belum berkedip. Lengannya perlahan melemah, hampir saja tubuhnya menghantam lantai jika Seungwoo tidak menangkapnya.
Teman-temannya Juga membelalak. Kemudian gemuruh sorak sorai membahana di lapangan indoor sekolah mereka.
“Yo! Earth to Youn.“
Seungyoun mengeratkan lengannya di leher Seungwoo, “Maksudnya apa?”
“Well, pengobatannya berhasil.”
Seungyoun perlahan ingin melepaskan diri dari Seungwoo yang setengah memeluknya.
Namun tidak-
Seungwoo semakin menariknya ke pelukan, “I like you.“
Seungyoun memukul dadanya. “Wow, aku sudah tidak cegukan.” Meraba lehernya sendiri.
“Mau jadi pacarku, ngga?”
“Asal masakin makan malam aja sih.”
“Dan jadi pacar Youn?”
“Lebih pengen Kak Woo jadi pendamping hidup, boleh?”
Seungwoo menghembuskan napas, “Haha, jauh banget mikirnya. Tapi, ayo! Berjuang bareng lima atau enam tahun lagi, deal?”
Seungyoun tersenyum, mengecup bibir Seungwoo, “Deal!”
Mereka melupakan teman-teman Seungwoo yang melangkah pergi, setengah iri dan setengah ingin mengguyur air agar sadar.
Biarkan saja mereka menikmati waktu sebagai pasangan baru yang terbentuk karena cegukan.
Kami tunggu kabar kalian lima sampai enam tahun lagi yaaa, our new couple Seungzz!!!
See you!!
@coffielicious