Regal-

Baru saja pintu apartemennya tertutup dan belnya berbunyi. Seungyoun masih menggendong Eunsang di punggungnya. Mengernyit heran, ada yang bertamu selarut ini.

Senin malam dan baru saja pulang kerja.

Melewari intercom, ia menemukan secuil raut lelah.

Memilih membukakan pintu,

“Youn, gue boleh minta tolong? Setirin ke RS?”

Seungyoun, sigap menangkap kunci, mengambil tas dan dompet kemudian sedikit berlari.

Di sana, Seungwoo membopong istrinya yang terkulai.

.

Eunsang ia dekap erat, mengemudikan mobil secepat yang ia mampu.

Eunsang masih bangun, ia mengerjabkan mata, seakan heran, apa yang terjadi dengan pippinya.

“Sebentar, Sayang. Pippi minta maaf karena ngebut, hm? Esa mau tidur dulu?”

Mengecup pelipis Eunsang saat lampu merah. Mengelus ujung kepala agar terlelap.

Tapi sepertinya Eunsang masih ingin menemani perjalanan Seungyoun.

Menyuapkan satu dua biskuit regal untuk menemani mata melek milik putranya.

.

IGD masih begitu terang, dokter dan suster berhamburan menolong nona Kim.

Seungwoo menunggu di luar ruangan setelah nona Kim diharuskan rawat inap.

Masih dengan Seungyoun, menyanyikan lullaby untuk putranya. Tidak berefek banyak, Eunsang malah semakin terkekeh.

Seungyoun tertawa pelan, “apa yang lucu? Ayo tidur, sudah larut.”

.

Seungwoo memperhatikannya, Seungyoun masih bersetelan, minus jas dan dasinya. Jasnya untuk membungkus putranya, yang tertawa halus dalam gendongannya. Hatinya menghangat, ia tidak tahu mengapa.

“Gue boleh gendong dia bentar?”

Seungwoo seakan kaget dengan permintaannya sendiri. Pun dengan Seungyoun.

“Boleh aja sih Kak, cuman kayanya Kakak masih cape. Anak gue berat.”

“Siapa tau capenya ilang.”

Seungwoo mengulurkan kedua tangannya. Seungyoun menatapnya ragu, kemudian membuka jas pembungkus tubuh Eunsang, perlahan memberikannya pada Seungwoo.

Hatinya meluruh, putranya sama sekali tidak rewel, menatap Seungwoo yang menggendongnya.

Putranya malah seakan menyamankan diri di atas dada milik Seungwoo.

Seungwoo bersenandung pelan, Eunsang mengerjabkan matanya berat.

“Youn, dia tidur, lucu banget.”

Seungyoun tersenyum, “iya Kak, makasih. Sekarang biar gue gendong. Nanti lengannya pegel.”

“Ga, biar begini dulu.”

Seungwoo menduduki bangku ruang tunggu, membungkuskan jaketnya pada Eunsang.

“Namanya siapa?”

Seungyoun masih berdiri, memotret pemandangan di depannya dalam memori. Meminum banyak-banyak, sebanyak yang ia mampu, sebanyak yang ia mau. Menguncinya dalam satu kotak kecil untuk ia kenang di masa yang akan datang.

“Eunsang, Cho Eunsang.”

Seungyoun menyampirkan jasnya pada pinggang.

“Gue maksa, sekarang biar dia gue gendong Kak.”

“Kenapa?”

“Biar ga cape,” mengambil Eunsang dalam dekapan papanya. Jantungnya berdenyut nyeri ketika sesaat lengannya bergesekan dengan milik yang lainnya.

Menciumi pipinya yang semakin gembil, saat Eunsang dengan sempurna sudah dalam jangkauannya. Ia tersenyum, bayinya tersenyum, seakan mendapat bunga tidur yang indah dalam lelapnya.

Membenahi gendongannya, kemudian mendudukan diri.

“Nona Kim, sakit apa, kalo boleh tahu?”

“Kanker serviks, dan harus diangkat rahimnya.”

Seungyoun diam, menelisik Seungwoo yang kini menatap kosong.

“Maaf, Kak.”

“Ga perlu, Youn.”

“Gue, boleh pulang duluan? Kasian Esa, ya kalo Kakak ga keberatan sih,” merapikan gendongannya dan beranjak berdiri.

“Youn,” tarikan pada lengannya membuatnya berhenti.

“Ceritain tentang Esa.”

Seungyoun bergeming, kepala mungil Eunsang yang meneleng, ia benarkan.

“Apa yang mau Kakak tau?”

“Ya semuanya, kok bisa dia anak lu? Sama... siapa?”

Seungyoun masih diam, mengeratkan jas yang kini menjadi tumpuannya.

“Ya, anak gue, udah.”

“Sama siapa, Youn? Apa gue perlu cari tau sendiri?”

“Ga ada yang perlu dicari tau, Esa anak gue.”

“Gue boleh ngerawat dia? Sama istri gue?”

Berjengit, Seungyoun mundur. Kaget dengan permintaan Seungwoo barusan.

Baru saja hatinya bungah karena Eunsang sejenak mendapat sentuhan papanya. Tapi, seakan tak rela, jantungnya menjatuhkan dirinya sendiri, tanpa ingin berhenti berdenyut menyakitkan.

“Kenapa harus Esa? Kenapa harus anak gue?”

Suaranya bergetar.

“Seenggaknya gue tau siapa orang tuanya kalo gue pengen ngerawat anak.”

Enteng sekali, tidakkah ia berpikir bahwa ini sangat kejam.

“Kayanya lu kurang tidur deh, Kak. Makin ngelantur gini.”

“Ngga, gue serius, daripada Esa ga ada ibunya, kan?”

Seungyoun melebarkan pupilnya, marah, sedih, kesal, kecewa paling mendominasi.

Ia mundur, bertumpu pada dinding di belakangnya.

“Youn...”

“Jangan gerak, Kak. Tolong.”

Seungyoun terduduk, bibirnya mengecup pelipis Eunsang yang masih mengarungi alam mimpi.

“Maaf, maafkan pippi. Maafkan pippi, Esa ya..”

Air matanya luruh.

“Gue, ibu sekaligus ayah buat anak gue, Kak,” getar suaranya tak mampu ia sembunyikan.

“Ga ada orang lain, Kak. Ga ada orang lain yang boleh ambil Esa dari pelukan gue. Dia punya gue, Kak. Satu-satunya. Tolong, jangan bawa pergi, tolong biarin dia di sini sama gue. Tolong, Kak.”

Seungyoun semakin beringsut mundur, mendudukan dirinya di lantai, mengecupi pelipis Eunsang tanpa henti.

Mengusap air matanya yang semakin deras, ia ingin berhenti.

“Kak, gue minta tolong, jangan temui gue atau Esa lagi. Gue sama Esa pamit.”

Berdiri, mendekati Seungwoo yang masih bergeming heran Mengambil telapak tangan lebar yang dulu sering menenangkan dirinya sendiri.

Ia mengenggamnya pelan, mengarahkannya pada pipi putranya.

“Terima kasih menidurkan Esa, Papa. Kami pamit dulu.”

Berbalik, berjalan terseok, ingin menjauh dari semua hal. Membawa Eunsang dalam ketimpangan miliknya. Berharap segalanya yang terbaik untuk putranya.

“Kami sayang papa,” sayup, ia bisikkan di telinga pelitanya.

“Tetap bersama pippi, Jagoan.”

.

.

.

©Coffielicious